Imbas Corona, BI Ramal Inflasi Mei Cuma 0,09 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2020 15:52 WIB
Aktivitas jual beli di pasar tradisional Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/1/2019). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang tahun 2018 sebesar 3,13 persen, angka ini lebih rendah dari inflasi tahun 2017 lalu  sebesar 3,61 persen, BPS mencatat Inflasi 2018 utamanya disumbang inflasi inti, kemudian disusul inflasi volatile food. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc. Bank Indonesia memperkirakan inflasi rendah pada Mei 2020 karena merosotnya permintaan barang dan jasa di tengah pandemi corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memprediksi tingkat inflasi pada Mei 2020 hanya 0,09 persen secara bulanan (mtm). Sementara, secara tahunan (yoy), inflasi diprediksi berada pada kisaran 2,21 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, prakiraan tersebut merupakan bagian dari Survei Pemantauan Harga (SPH) BI hingga minggu keempat Mei 2020 di 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia.

Menurut Perry, inflasi ramadan hingga lebaran tahun ini tersebut terbilang sangat rendah, dibandingkan periode yang sama dalam lima tahun terakhir.


Bahkan inflasi bulan ini juga lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, yakni 0,18 persen pada April, 2,96 persen pada Maret dan 2,98 pada  Februari.

"Inflasi di bulan ramadan tahun ini sangat rendah kalau di tahun-tahun sebelumnya. Misalnya 2019 itu inflasinya di bulan ramadan sebelum Idulfitri itu 0,68 persen, di tahun 2018 itu 0,59 persen dan 2017 0,69 persen," ungkapnya dalam video conference, Kamis (28/5).

Dengan hasil pemantauan itu, Perry juga memprakirakan inflasi pada tahun ini akan tetap terkendali dan sesuai target pada level 3 plus minus 1 persen.

Faktor utama yang menyebabkan rendahnya inflasi pada bulan ini adalah dampak covid-19 yang menurunkan permintaan masyarakat akan barang dan jasa.

"Kalau tahun-tahun sebelumnya kita di bulan ramadan berbuka puasa tidak hanya di rumah kadang juga di restoran," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Rendahnya permintaan itu juga terlihat dari berbagai kegiatan ekonomi, termasuk juga pendapatan masyarakat selama masa pandemi.

Faktor lain, lanjut Perry, tentu juga berkaitan dengan rendahnya harga-harga komoditas global.

"Dan karenanya memang itu berpengaruh pada harga barang barang yang diimpor. Itu kenapa imported inflation itu juga rendah," pungkasnya.




(hrf/sfr)