Politik Hong Kong Tak Stabil, Pebisnis Hijrah ke Singapura

CNN Indonesia | Kamis, 11/06/2020 12:44 WIB
Merlion Park adalah salah satu kawasan wisata yang kerap dikunjungi turis domestik dan mancanegara di Singapura. Pebisnis Hong Kong mulai melirik Singapura sebagai pusat bisnis baru di tengah situasi politik yang tidak stabil. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami).
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pebisnis Hong Kong mulai mempertimbangkan rencana untuk pindah ke Singapura. Pasalnya, situasi politik Hong Kong sedang tidak stabil.

Dilansir CNN, Kamis (11/6), survei yang dilakukan Kamar Dagang Amerika (Amcham) terhadap 50 responden menguatkan sinyal tersebut. Responden dilaporkan mempertimbangkan untuk memindahkan modal, aset, atau operasi bisnis ke lokasi lain setelah Beijing menyetujui rencana penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional untuk Hong Kong.

RUU Keamanan Nasional ini bakal melarang setiap tindakan pengkhianatan, penghasutan, pemisahan diri, dan subversif terhadap Beijing. RUU ini juga memungkinkan pihak keamanan China beroperasi di Hongkong.


Negara barat bereaksi negatif terkait rencana tersebut meski belum diketahui dampak nyata dari RUU Keamanan Nasional itu. Bahkan, Amerika Serikat mengancam untuk mengakhiri hubungan ekonomi dan perdagangan khusus dengan Hong Kong.

Berdasarkan survei Amcham, responden memilih beberapa opsi relokasi, yakni Sydney, Tokyo, Bangkok, Taipei, dan Singapura sebagai pilihan yang terkuat.

"Jika mereka (pebisnis) melihat masalah dan ketidakpastian maka banyak yang akan pergi. Siapa pemenangnya? Singapura, Singapura, dan Singapura," kata Mauro Guillen, Profesor Manajemen Internasional di Wharton School of the University of Pennsylvania.

Singapura telah bertahun-tahun menjadi salah satu pusat bisnis di kawasan Asia Tenggara. Konversi mata uang dan ekosistem yang mendukung disebut sebagai hal positif bagi perusahaan asing untuk pindah ke Singapura.

Pada 2018, Singapura berada di posisi kedua setelah Swiss dalam daftar Deloitte dalam hal manajemen kekayaan internasional yang mencakup daya saing dan kinerja. Tahun lalu, Singapura mencetak nilai tertinggi untuk infrastruktur, kesehatan, pasar tenaga kerja, dan sistem keuangan dalam World Economic Forum mengalahkan AS.

CEO Asian Tigers Group Rob Chipman juga mengatakan Singapura terus mengembangkan reputasi sebagai pusat perusahaan bioteknologi. Terbukti, perusahaan seperti GlaxoSmithKline (GSK), Merck (MRK), dan Roche Diagnostics memiliki kantor pusat regional di sana.

"Jika Anda berada dalam bisnis mikroteknologi atau industri biotek, Anda mungkin ingin pindah ke Singapura untuk tujuan bisnis," ucapnya.

Faktor lain yang menguntungkanSingapura adalah penggunaan bahasa dan letak geografis yang strategis. Bahasa Inggris adalah bahasa resmi di Singapura dan ini penting untuk perusahaan asing yang mencari kantor regional yang potensial.

Dalam hal penggunaan bahasa Inggris, Singapura unggul ketimbang kota-kota seperti Tokyo, Bangkok, dan Taipei.

Letak geografis Singapura dengan pusat bisnis juga menjadi keuntungan lainnya. Para pebisnis bisa lebih fleksibel dalam mengelola pasar mereka yang berada di kawasan Asia Pasifik dan keuntungan ini tidak dimiliki kota lain seperti Sydney.

Sebagai contoh, waktu tempuh penerbangan dari Sydney ke Tokyo atau Beijing dapat memakan waktu sekitar 10 jam. Sedangkan perjalanan dari Singapura ke dua kota tersebut tidak sampai 10 jam.

Kendati demikian, kekhawatiran terhadap Singapura sebagai pusat bisnis juga tetap ada. Pada 2019 lalu, Singapura memberlakukan undang-undang kontroversial mengenai berita palsu yang dianggap bisa berpengaruh pada sektor bisnis.

Pemberlakuan undang-undang ini menuai kecaman dari berbagai pihak yang menganggap regulasi tersebut dapat dipergunakan untuk membungkam kritik. Dengan pemberlakuan undang-undang ini, pemerintah dapat memerintahkan perusahaan media sosial untuk melampirkan peringatan pada unggahan yang dianggap aparat salah.

[Gambas:Video CNN]


(jal/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK