Sebelumnya, Erick menunjuk Carlo Brix Tewu menjadi Komisaris PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Carlo merupakan lulusan Akpol 1985, memiliki pengalaman di bidang reserse, dan berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang terlibat dalam pembunuhan tersebut bersama Tim Cobra.
Selain itu, pekan ini, ia juga mengangkat Komisaris Jenderal Polisi Bambang Sunarwibowo sebagai Komisaris PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Sejak 3 Maret 2020 lalu, Bambang menjabat sebagai Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara (BIN).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, menurut Erick, kebutuhan sosok yang ahli di bidang hukum dan keamanan sejatinya juga diperlukan di sektor lain, misalnya perasuransian.
"Sama juga kalau bicara asuransi, sekarang banyak isu penipuan, yang tanggung jawabnya sampai hari ini di masyarakat tidak dapat kepastian. Makanya, asuransi saya masukkan juga figur yang dekat dengan hukum dan keuangan, jadi balance," jelasnya.
"Jadi ada ahli untuk industrinya, keuangannya, tapi harus ada ahli di bidang social issue-nya juga. Ini yang kami coba balance (seimbangkan)," tuturnya.
Direksi dari Luar BUMN
Erick mengatakan pemilihan komisaris dan direksi BUMN terbuka untuk semua pihak. Syaratnya, memenuhi kriteria kebutuhan, memiliki akhlak, dan mampu mengejar target perusahaan.
Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan anggota direksi yang mumpuni, Erick membuka pintu bagi sumber daya manusia di luar BUMN. Hal ini sejatinya sempat dilakukannya dalam bursa pemilihan direktur utama Pertamina.
"Dalam kertas-kertas yang saya dapatkan, nama-nama tersebut tidak ada (dari direksi saat ini), tapi nama lain ada. Tapi Ibu Nicke masih terbaik," jelasnya.
Lebih lanjut, Erick memberi sinyal akan menghapus posisi direktur utama untuk perusahaan yang berada di bawah sub holding Pertamina. Tujuannya agar lebih fokus.
Kebijakan itu sudah diterapkan PT Perkebunan Nusantara (PTPN), di mana posisi direktur utama hanya ada di PTPN III selaku pimpinan holding. Begitu pula dengan Semen Indonesia.
"Apakah di anak usaha akan ada dirut? Lihat saja tanda-tandanya, kan di PTPN tidak, di Semen (Indonesia) tidak ada. Ini saatnya kami konsolidasi," pungkasnya.
(uli/sfr)