Punya Ruang, BI Bakal Pangkas Lagi Bunga Acuan

CNN Indonesia | Jumat, 19/06/2020 11:30 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 19 Desember 2019. Bank Indonesia menengarai ruang pemangkasan suku bunga masih terbuka karena inflasi yang rendah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) akan menurunkan lagi tingkat suku bunga acuan (BI 7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) ke depan. Kebijakan ini terbuka karena ada beberapa faktor yang mendukung penurunan tingkat bunga acuan bank sentral.

"Tentu masalah timing-nya, kapannya, kami perlu melihat kondisi (ekonomi) global," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers virtual, Kamis (18/9).

Perry menjelaskan ruang penurunan tingkat suku bunga acuan BI terbuka karena inflasi cukup rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,07 persen pada Mei 2020.


Sementara, inflasi tahun berjalan sebesar 0,9 persen pada Januari-Mei 2020 dan inflasi tahunan 2,19 persen dari Mei 2019 sampai Mei 2020. Bank sentral pun memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 2 persen sampai 4 persen sampai akhir tahun ini.

"Sehingga ada ruang bagi penurunan suku bunga lebih lanjut," ucapnya.

Faktor lain karena defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) cukup rendah, yaitu sebesar US$3,9 miliar atau 1,4 persen dari PDB pada kuartal I 2020. BI pun memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada di bawah target semula sebesar 2,5 persen dari PDB menjadi 1,5 persen dari PDB.

Selanjutnya, BI melihat masih ada kebutuhan penurunan tingkat suku bunga acuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Pasalnya, tingkat suku bunga acuan akan mempengaruhi kondisi bunga kredit, bunga deposito, hingga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.

"Ini untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia agar segera pulih dari covid-19," ungkapnya.

Terakhir, ruang penurunan tingkat suku bunga acuan berasal dari kondisi nilai tukar rupiah yang masih di bawah level fundamental. Saat ini, mata uang Garuda berada di kisaran Rp14 ribu per dolar AS.

"Berbagai faktor fundamental dan teknikal itu mendukung keyakinan kami bahwa nilai tukar berpotensi menguat, bahwa ke depan masih ada ruang bagi penurunan suku bunga lebih lanjut," katanya.

Saat ini, BI setidaknya sudah menurunkan tingkat bunga acuan sebanyak 175 basis poin (bps) dari 6 persen pada Juli 2019 menjadi 4,25 persen pada Juni 2020. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility yang diturunkan pula secara berkala, masing-masing kini menjadi 3,5 persen dan 5,0 persen.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)