Transportasi Umum Babak Belur Karena Covid-19

CNN Indonesia | Sabtu, 20/06/2020 02:05 WIB
Sejumlah penumpang Kapal Pelni Leuser asal Sampit, Kalimantan Tengah, menuruni tangga ketika kapal yang mereka tumpangi bersandar di Dermaga Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/5/2019). Memasuki H-7 Idul Fitri, pemudik yang berasal dari luar pulau Jawa mulai berdatangan dan memilih mudik lebih awal untuk menghindari kepadatan arus mudik Lebaran 2019. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/aww. Penumpang transportasi umum anjlok akibat merosotnya jumlah penumpang sepanjang pandemi virus corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendapatan PT Pelni (Persero) anjlok akibat penurunan jumlah penumpang sepanjang pandemi virus corona. Pada April lalu, Pelni mencatatkan hanya ada 523 orang saja yang diangkut perseroan, berbanding jauh dengan jumlah penumpang biasanya yang mencapai 200 ribu penumpang.

Direktur Utama Pelni Insan Purwarisya menyebut hal serupa juga terjadi pada Mei 2020, perusahaan hanya menyeberangkan 700 penumpang sementara setidaknya ada 90 ribu tiket yang dijual Pelni pada Mei biasanya.

"Biasanya, mendekati Lebaran itu peak season April dan Mei. April dari kapasitas 200 ribuan, kami mengangkut 523 orang saja April ini. Mei biasanya mengangkut 90 ribu orang tahun ini hanya angkut 700 orang," ucapnya lewat video conference pada Jumat (19/6).


Insan menyebut selain kekhawatiran penumpang akan transmisi virus corona di dalam kapal, syarat wajib rapid tes atau pun swab PCR menjadi alasan utama masyarakat mengurungkan niatnya menggunakan jasa Pelni.

Ia menilai, harga tes kesehatan senilai Rp200 ribu hingga Rp2,5 juta tak sebanding dengan harga tiket yang dibanderol seharga Rp25 ribu per tiket. Katanya untuk menutupi pendapatan dari penjualan tiket penumpang, Pelni akan berfokus pada bisnis pengangkutan barang antar pulau.

Nasib serupa juga terjadi pada transportasi massal MRT yang mengalami mengalami penurunan drastis selama 3 bulan pertama saat virus corona masuk RI. Direktur Utama MRT William Sabandar menyebut terjadi penurunan drastis, tersisa 3 persen penumpang saja yang menggunakan jasa MRT dibanding jumlah penumpang pada saat normal.

"Penumpang kami turun. Kalau Garuda sisa 10 persen, MRT jadi 3 persen, bisa dibayangkan 3 bulan pertama Maret, April, Juni," ucapnya.

Namun, ia melihat ada kenaikan sepanjang Juni, meski belum memiliki data pastinya namun ia menyebut kenaikan berkisar antara 17 hingga 18 persen. Ia memprediksi angka akan terus naik seiring dengan semakin banyak masyarakat yang kerja di kantor selama tatanan normal baru.

"Bulan depan (Juli) kami berharap masuk 30 persen tapi enggak akan 100 persen karena akan ada sosial distancing. Maksimal 60 persen," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)