Ekspor Teh Asal Sumatera Utara Capai Rp10,4 M

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 00:55 WIB
Pekerja memetik pucuk daun teh di lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Senin (2/4). Kementerian Perdagangan mengharapkan tren peningkatan nilai ekspor produk teh dalam negeri pada 2017 sebesar 1,04 persen dibanding 2016 terus berlanjut pada 2018, karena produk tersebut dinilai memiliki kualitas yang baik dan aroma yang khas. ANTARAFOTO/Wahdi Septiawan/kye/18. Kementerian Pertanian mencatat ekspor teh yang keluar melalui Pelabuhan Belawan pada semester I 2020 mencapai 461 ton dengan nilai Rp10,4 miliar.
Ilustrasi. (ANTARAFOTO/Wahdi Septiawan).
Medan, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan mencatat ekspor teh (camellia sinensis) yang keluar melalui Pelabuhan Belawan pada semester I 2020 mencapai 461 ton dengan nilai Rp10,4 miliar.


"Melalui catatan IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automation System) Karantina Pertanian Belawan selama masa pandemi ini ada sembilan negara tujuan ekspor yang menerima teh asal Sumatera Utara," kata Kepala Karantina Pertanian Belawan Hasrul, Selasa (7/7).

Hasrul menjelaskan negara yang menjadi tujuan ekspor komoditas subsektor perkebunan Sumut ini yaitu Malaysia, Taiwan, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Pakistan, Jerman, China dan Iran.



"Selama semester I 2020 ekspor teh melalui Pelabuhan Belawan telah dilakukan sebanyak 26 kali pengiriman. Hal ini sudah mencapai 39 persen dari total ekspor teh Sumatera Utara pada 2019 yang mencapai 1.196 ton," urainya.


Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil mengatakan Kebun Bah Butong Sidamanik merupakan perkebunan teh di bawah pengelolaan PTPN IV yang menjadi produsen ekspor teh di Sumut. Kebun ini memiliki 6.368,25 hektar yang ditanami teh varietas ortodok yang tahan terhadap penyakit cacar daun teh Hemileia vastatrix.

Hasil dari kebun teh Bah Butong Sidamanik memiliki 14 macam bentuk produk teh unggulan ekspor.

"Kami memberikan pendampingan bagaimana proses mitigasi organisme pengganggu tumbuhan pada tempat produksi dan kemasan teh sehingga dapat memiliki sanitasi yang baik," ujarnya.

Menurutnya teh merupakan produk ekspor yang mendunia. Karena itu masih banyak peluang ekspor yang dapat dimasuki oleh teh Indonesia.

"Kami berharap dengan adanya pendampingan ekspor secara langsung dari unit pelaksana teknis karantina di seluruh Indonesia, akan semakin banyak peningkatan volume ekspor teh Indonesia," tutup Ali Jamil.

[Gambas:Video CNN]



(fnr/age)