Temuan Virus Flu Babi, Kementan Tegaskan Tak Impor dari China

CNN Indonesia | Selasa, 07/07/2020 12:08 WIB
Ilustrasi Babi Kementan menegaskan tidak melakukan impor babi dari China. Impor hewan babi dilakukan dari Kanada dan AS, itu pun hanya sebatas pengadaan bibit. Ilustrasi. (afnewsagency/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian menegaskan tidak ada impor babi dari China, seiring dengan temuan baru virus flu babi (swine flu) G4 EA H1N1 yang berpotensi menjadi pandemi baru.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Kementan Agus Sunanto menjelaskan bahwa importasi hewan babi dilakukan dari Kanada dan Amerika Serikat. Namun, importasi itu pun hanya untuk pengadaan bibit sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan dari Kementerian Pertanian.

"Kalau hewan babi itu tidak ada dari China, kami impor babi dari Kanada dan AS, itu pun tidak rutin hanya terkait pengadaan bibit saja, mungkin tahun depan atau ketika ada kebijakan dari Kementerian Pertanian. Tapi sekarang ini belum ada (impor)," ujar Agus, mengutip Antara, Selasa (7/7).


Ia menjelaskan impor bibit babi dari Kanada dan AS tidak dilakukan secara rutin. Kebijakan pengadaan bibit tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian untuk perbaikan genetika dan penambahan populasi babi.

Namun demikian, saat ini Indonesia justru rutin melakukan ekspor hewan babi ke Singapura. Setidaknya, 1.000 ekor babi diekspor setiap harinya ke Singapura.

Terkait dengan virus flu babi tipe baru yang disebut berpotensi memicu pandemi baru, ia menyebut telah meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan.

Ada pun virus yang dinamakan reassortant Eurasian avian-like (EA) H1N1 genotype 4 (G4) atau virus flu babi G4 ini dilansir melalui publikasi ilmiah Amerika Serikat PNAS (29/6).

"Kalau penyakit ini lalu lintasnya barang dari material babi. Kalau lalu lintas babi hidup, biasanya lewat pelabuhan internasional, bisa pelabuhan bisa bandara tergantung jumlahnya," terang dia.

Agus menambahkan pengawasan terhadap produk babi telah dilakukan sejak merebaknya kasus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika pada tahun lalu di China.

Peningkatan pengawasan juga telah dilakukan terhadap kedatangan turis China ke Indonesia sejak kasus ASF merebak. Namun, dengan penutupan penerbangan internasional dari China selama pandemi covid-19, lalu lintas produk babi yang dibawa oleh turis China juga menurun risikonya.

"Sejak kasus ASF, kami sudah siap karena setiap penumpang dari China di Bandara yang membawa produk babi, pasti kami tahan, kami uji, kemudian kami musnahkan. Namun, dengan penutupan karena covid-19, sedikit menurunkan risiko penyebaran," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(bir/sfr)