Strategi Garuda Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi Corona

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 10:20 WIB
This illustration picture taken on November 15, 2019 shows the logo of a Garuda Indonesia Airbus A330 aircraft parked on the tarmac at the Airbus delivery center in Colomiers, southwestern France. (Photo by PASCAL PAVANI / AFP) Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra membeberkan upaya perseroan tetap bertahan di tengah pandemi, salah satunya dengan mengoptimalkan bisnis kargo. Ilustrasi. (PASCAL PAVANI / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra membocorkan cara perseroan bertahan di tengah pandemi virus corona (covid-19). Pasalnya, pandemi telah menggerus sekitar 90 persen penumpang.

"Kami melakukan upaya drastis, kami banyak fokus ke kargo," ujarnya dalam acara Jakarta Chief Marketing Club Officer (CMO), Rabu (8/7).

Beruntungnya, pemerintah mengizinkan maskapai memanfaatkan kabin penumpang untuk menempatkan barang dengan beban maksimal 70 kilogram (Kg). Oleh sebab itu, ia menganggap pandemi ini menjadi momentum tepat menggenjot bisnis kargo. Targetnya, layanan kargo bisa menopang bisnis perseroan 30 persen hingga 40 persen di masa mendatang.


"Sekarang secara year on year saja pertumbuhannya (kargo) sampai 200 persen," paparnya.

Selain kargo, lanjutnya, Garuda Indonesia juga akan menyasar penumpang luar negeri ke Indonesia di masa mendatang terutama untuk tujuan wisata. Alasannya, selama ini perseroan lebih banyak mengantarkan orang ke luar negeri.

"Setelah diskusi mendalam, ditemukan bahwa tahun lalu masyarakat Indonesia menghabiskan US$80 miliar ketika melakukan perjalanan ke luar negeri. Sementara data ke dalam negerinya tidak terlalu banyak," paparnya.

Oleh sebab itu, ia berencana membuka penerbangan langsung (direct flight) ke Denpasar, Bali dari Eropa dan Amerika. Dengan penerbangan langsung itu, harapannya wisatawan asal Eropa dan Amerika tidak singgah di Dubai, Doha, Singapura, atau Bangkok, tapi langsung ke Denpasar.

[Gambas:Video CNN]

Upaya ini juga diyakini bisa mendatangkan devisa bagi Tanah Air lantaran wisatawan asal Eropa dan Amerika cenderung memiliki kapabilitas konsumsi (spending capability) jauh lebih tinggi.

"Dan ketika di Denpasar, kemudian mereka bisa extend ke tempat-tempat eksotis lainnya seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Yogyakarta, maupun Danau Toba," ucapnya.

(ulf/sfr)