Australia Tambah Jatah Visa Kerja dan Wisata WNI 4 Kali Lipat

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 17:57 WIB
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat pengumuman jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) Kemendag menyatakan Australia menambah jatah kuota visa kerja dan wisata bagi WNI hingga 4 kali lipat setelah kesepakatan IA-CEPA. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan Australia menaikkan kuota pengajuan visa kerja dan liburan atau work and holiday visa (WVH) bagi WNI hingga 4 kali lipat dari posisi sekarang.

Kenaikan tertuang dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).

Agus menjelaskan selama ini kuota visa kerja dan wisata bagi WNI hanya 1.000 per tahun. Dengan perjanjian IA-CEPA, kuotanya naik menjadi 4.100 per tahun.


"Kuota 1.000 per tahun ini habis dalam hitungan jam karena peminatnya sangat banyak. Oleh karena itu kami tingkatkan menjadi 4.100 pada saat IA-CEPA berlaku," terang Agus dalam video conference, Jumat (10/7).

Agus mengatakan Jumlah kuota itu, sambung Agus, akan terus ditingkatkan setiap tahunnya. Targetnya, kuota visa kerja dan liburan bagi WNI dari pemerintah Australia bagi WNI mencapai 5.000 pada tahun ke-6 implementasi IA-CEPA.

Mengutip laman resmi Kementerian Perdagangan, jumlah kuota visa kerja dan liburan dari Australia untuk WNI pada tahun ke-2 implementasi IA-CEPA adalah 4.264 visa. Kuota tersebut akan dinaikkan menjadi 4.435 visa pada tahun ke-3, 4.612 visa tahun ke-4,  4.796 visa tahun ke-5, dan 5.000 visa pada tahun ke-6.

Selain jumlah kuota visa, Indonesia dan Australia juga menyepakati tarif nol persen bagi barang yang diekspor ke Negeri Kanguru tersebut. Hal ini akan meringankan beban pengusaha yang biasanya mengekspor barang ke Australia.

[Gambas:Video CNN]

Agus menyatakan beberapa produk ekspor unggulan ke Australia, antara lain tekstil dan produk tekstil, produk kayu dan turunannya termasuk furnitur, makanan dan minuman olahan, produk kelautan dan perikanan, serta peralatan elektronik.

Hal yang sama juga diberikan untuk produk impor dari Australia. Mereka juga akan mendapatkan tarif bea masuk nol persen.

Agus bilang produk-produk Australia yang masuk dengan bebas tarif bisa menambah daya saing industri nasional. Ini karena Indonesia kerap mengimpor bahan baku dari negara tetangga.

Sebagai informasi, kerja sama perdagangan Indonesia dan Australia pada 2019 tercatat sebesar US$7,8 miliar. Ekspor Indonesia tercatat sebesar US$2,3 miliar dan impor sebesar US$5,5 miliar, sehingga Indonesia defisit US$3,2 miliar dari Australia.

Dengan IA-CEPA, Agus menargetkan defisit perdagangan Indonesia dan Australia turun hingga 50 persen. Artinya, angka defisit perdagangan Indonesia dan Australia menjadi hanya US$1,6 miliar.

"Untuk target defisit saya lihat ada pengurangan signifikan pada 2021, tidak tahun ini. Tahun ini diharapkan berkurang tapi tidak signifikan," pungkas Agus.

(aud/agt)