Jokowi Klaim Daya Beli Masyarakat Merangkak Naik

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 20:54 WIB
Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan prosedur new normal di Summarecon Mal Bekasi, Selasa (26/5) / FOTO: Muchlis-Biro Setpres Presiden Jokowi mengklaim daya beli masyarakat mulai merangkak naik, tercermin dari inflasi Juni yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya. (Muchlis-Biro Setpres).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim daya beli masyarakat mulai merangkak naik. Hal itu terlihat dari inflasi Juni 2020 yang tercermin naik dari posisi Mei 2020.

"Inflasi juga naik artinya ada daya beli yang sudah semakin merangkak," tutur Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (13/7).

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Juni 2020 tercatat sebesar 0,18 persen atau lebih tinggi dari posisi Mei 2020 yang sebesar 0,07 persen. Namun, realisasinya tetap lebih rendah kalau dibandingkan dengan Juni 2019 yang mencapai 0,55 persen.


Kendati begitu, Jokowi menyatakan bakal terus mendorong daya beli di kuartal selanjutnya. Hal ini demi memperbaiki pertumbuhan ekonomi domestik. Maklum, ekonomi Indonesia masih bergantung dengan tingkat konsumsi masyarakat.

"Akan kami pacu terus agar kuartal ketiga bisa betul-betul naik. Juli, Agustus, September 2020 itu sebagai gambaran," terang Jokowi.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok hingga 2,97 persen pada kuartal I 2020. Angkanya jauh melambat dari sebelum-sebelumnya yang mencapai 5 persen.

Salah satu faktor utamanya karena tingkat konsumsi masyarakat hanya tumbuh 2,84 persen. Angka ini terpaut jauh dari periode yang sama tahun lalu, yakni 5,02 persen.

Secara porsi, kontribusi konsumsi rumah tangga masih mendominasi pembentukan pertumbuhan ekonomi domestik, yakni sebanyak 58,14 persen. Porsi ini meningkat dibandingkan kuartal I 2019 lalu yang hanya 56,83 persen.

Lalu, kontribusi kedua terbesar, yakni dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 31,91 persen. Namun, porsinya menyusut dari 32,15 persen pada kuartal I 2019 menjadi hanya 31,91 persen.

Nasib serupa juga dialami ekspor. Kontribusi ekspor susut dari 18,56 persen menjadi 17,43 persen. Kendati porsinya menyusut, pertumbuhannya tercatat membaik dari sebelumnya minus 1,58 persen menjadi 0,24 persen.

Kemudian, konsumsi pemerintah dengan kontribusi sebesar 6,50 persen. BPS merekam konsumsi pemerintah melambat, yaitu dari 5,22 persen pada kuartal I 2019 menjadi 3,74 persen pada kuartal I 2020.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)