Minyak Dunia Tertekan Corona dan Ketegangan AS-China

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 07:36 WIB
Kilang Minyak Laut Minyak dunia tertekan lonjakan kasus corona dan ketegangan AS dengan China. Ilustrasi. (iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak tergelincir sekitar satu persen pada perdagangan Senin sore waktu AS atau Selasa pagi WIB setelah kasus Virus Corona (COVID-19) global naik tembus rekor harian. Pelemahan juga dipicu oleh peningkatan ketegangan yang terjadi antara AS dengan China. 

Dilansir dari Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 52 sen atau 1,2 persen menjadi US$42,72 per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 45 sen atau 1,1 persen menjadi US$40,1 per barel di New York Mercantile Exchange.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 230 ribu kasus baru virus corona di dunia pada Minggu (12/7). Sementara pada Senin kemarin, setidaknya ada 215 ribu kasus baru.


Sebagian besar peningkatan kasus  terjadi di AS. Salah satu negara bagian Florida yang mencapai 15 ribu kasus baru dalam sehari dan mencetak rekor di antara negara bagian AS lainnya.

Peningkatan terjadi karena banyak negara bagian telah melonggarkan pembatasan operasi bisnis mereka beberapa waktu terakhir. Hal ini membuat beberapa negara bagian akan melakukan aturan pembatasan baru, salah satunya California.

Gubernur California Gavin Newsom bahkan menutup lagi operasional restoran dan bioskop di wilayahnya. "Berita California menempatkan pertanyaan pemulihan permintaan kembali di atas meja," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Selain itu, pasar juga gelisah dengan ketegangan hubungan AS dan Eropa dengan China. Uni Eropa mengatakan tengah mempersiapkan langkah-langkah balasan terhadap China dalam menanggapi Undang-Undang Keamanan baru Beijing di Hong Kong.

[Gambas:Video CNN]

Sementara China mengumumkan sanksi terhadap AS setelah Washington menghukum pejabat-pejabat senior China atas perlakuan terhadap Muslim Uighur. Di sisi lain, pasar menanti kesepakatan baru dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) ditambah Rusia atau dikenal OPEC+.

Mereka akan mengadakan pertemuan pada hari ini dan besok yang diharapkan akan memberi sinyal pemangkasan produksi lagi. Pasar berekspektasi OPEC+ mengurangi produksi sekitar 7,7 juta barel per hari atau lebih rendah dari rekor pemotongan sebelumnya sebanyak 9,7 juta barel per hari pada Mei-Juni 2020.

"Itu tampaknya pilihan yang cukup berisiko, dengan perpanjangan yang lebih aman satu bulan," kata Analis Senior Pasar OANDA Edward Moya di New York.

(uli/agt)