Pelaku UMKM Sebut e-Commerce Sumbang 20 Persen dari Omzet

CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2020 20:09 WIB
Suasana pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2019 yang berlangsung di JCC, Jakarta, 12 Juli 2019. KKI tahun ini mengusung tema Asosiasi UMKM Indonesia menyatakan penjualan melalui marketplace tak signifikan, hanya berkontribusi sebesar 15-20 persen dari total omzet.Ilustrasi UMKM. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M. Ikhsan Ingratubun menyatakan penjualan pelaku UMKM lewat lapak daring atau marketplace tak signifikan, hanya berkontribusi sebesar 15-20 persen dari total omzet.

"Teman-teman yang melakukan perdagangan online melalui marketplace bisa memberikan ketahanan walau omzet jauh berkurang, omzet hanya kira-kira 15-20 persen," katanya lewat video conference, Kamis (16/7).


Ikhsan menilai untuk sementara waktu penjualan di lapak daring masih dapat menjadi penyangga para pelaku UMKM yang telah go online. Sayangnya, angka pelaku yang menggunakan fasilitas e-commerce masih minim, yaitu sekitar 8 juta orang atau 13 persen dari total 60 juta pelaku UMKM.



Sehingga, Ikhsan berharap pemerintah dapat memberikan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan angka pelaku UMKM ke platform digital. Sebab, ia menilai kemampuan teknologi pelaku UMKM masih lemah.


"Bagaimana meningkatkan kemampuan UMKM jualan lewat online, skill marketing online (kemampuan pemasaran daring). Dibutuhkan kemampuan yang mumpuni, mengapa saran ke Kemenkop pembinaan jangan yang remeh-temeh, arahkan ke penjualan online," papar Ikhsan.


Dalam kesempatan sama, Menkop UKM Teten Masduki menyatakan bahwa pemerintah tengah gencar mengedukasi pelaku UMKM agar melek teknologi. Ia menyebut telah menggandeng sejumlah marketplace untuk menyediakan pembinaan.

Ia yakin jumlah pelaku UMKM yang bakal menggunakan fasilitas daring untuk memasarkan dagangan mereka tembus target yaitu 10 juta usaha.


"Transformasi digital target 10 juta tahun ini, kami sudah mengembangkan kerja sama dengan e-commerce termasuk mengembangkan aplikasi tata niaga yang lebih maksimum," jawabnya.


Sebelumnya, Teten sempat memaparkan bahwa Kemenkop UKM menggandeng sejumlah perusahaan rintisan (startup) marketplace dan financial technology (fintech) untuk mendukung pengembangan UMKM sektor pertanian, perikanan dan kelautan lewat platform digital.

Beberapa startup di antaranya adalah Tanihub, Aruna, Ternaknesia, Hara, Alami, Modal Rakyat, Sayur Box, dan Ekosis. Dukungan akan diberikan dalam bentuk pembiayaan serta akses ke pasar dengan jangkauan lebih luas.

Teten menyampaikan hal tersebut merupakan arahan khusus dari Presiden Joko Widodo agar pelaku UMKM terhubung dengan pasar dalam negeri maupun luar negeri.

"Semua kementerian ada program subsidi. Lalu pemerintah bagi-bagi lahan, sekarang bagi kapal jaring. Nah, karena tidak dibangun bisnis model, tidak integrasi dengan pendanaan market-nya kurang maksimum," pungkas Teten.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK