Uni Eropa Kucurkan Paket Stimulus Pemulihan Corona Rp12.600 T

sfr, CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2020 16:36 WIB
Kelompok negara Uni Eropa menyiapkan stimulus pemulihan ekonomi dari pandemi corona senilai 750 miliar euro atau sekitar Rp12.600 triliun. Kelompok negara Uni Eropa menyiapkan stimulus pemulihan ekonomi dari pandemi corona senilai 750 miliar euro atau sekitar Rp12.600 triliun. (PHILIPPE WOJAZER / POOL / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin negara Uni Eropa menyepakati anggaran stimulus ekonomi senilai 750 miliar euro atau sekitar Rp12.600 triliun (asumsi kurs Rp16.800 per euro) untuk rencana pemulihan usai dihantam pandemi virus corona.

Pemberian stimulus akan difokuskan untuk menyediakan pendanaan untuk tiga pilar. Pertama, menyusun skema untuk membantu dunia usaha bangkit dari pandemi.

Kedua, menetapkan tolak ukur baru untuk mereformasi ekonomi dalam jangan panjang. Ketiga, investasi untuk perlindungan dari krisis di masa mendatang.


Penyaluran stimulus akan diberikan dalam bentuk hibah maupun pinjaman kepada negara anggota.

Kesepakatan itu dicapai setelah para petinggi negara berdiskusi selama lima hari terakhir dan hampir menemui titik buntu.

"Ini adalah kesepakatan yang baik. Ini adalah kesepakat yang kuat, dan yang terpenting, ini merupakan kesepakatan yang tepat untuk Eropa saat ini," ujar Presiden Dewan Eropa Charles Michel dalam konferensi pers, dilansir dari CNN, Selasa (21/7).

Selain itu, Komisi Uni Eropa juga menyepakati anggaran dasar sebesar 1,1 triliun euro.

Menanggapi kesepakatan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai kesepakatan itu sebagai hari yang bersejarah untuk Eropa.

Perdana Menteri Belgia Sophie Wilmes menyebut Uni Eropa belum pernah begitu ambisius dalam berinvestasi untuk masa depan.

Uni Eropa sendiri tengah berjuang untuk menghadapi resesi karena pandemi. Bantuan ekonomi terutama diperlukan oleh negara yang paling terdampak oleh pandemi yaitu Italia dan Spanyol .

Pada awal bulan ini, Komisi Uni Eropa memperkirakan perekonomian Benua Biru akan turun 8,3 persen pada 2020. Proyeksi itu memburuk dari prediksi dua bulan lalu, minus 7,4 persen.

[Gambas:Video CNN]



(sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK