Paling Perkasa di Asia, Rupiah Taklukkan Dolar AS di Rp14.595

CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2020 09:35 WIB
Rupiah menguat 55 poin ke posisi Rp14.595 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/7). Rupiah paling perkasa di hadapan mata uang negara kawasan Asia. Rupiah menguat 55 poin ke posisi Rp14.595 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/7). Rupiah paling perkasa di hadapan mata uang negara kawasan Asia. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.595 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (23/7) pagi. Mata uang Garuda menguat 55 poin atau 0,38 persen dari Rp14.650 pada hari sebelumnya.

Rupiah menguat bersama sebagian mata uang Asia, seperti dolar Singapura yang naik 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,06 persen, yen Jepang 0,02 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. 

Sementara, sebagian mata uang Asia lainnya justru berada di zona merah. Won Korea Selatan melemah 0,28 persen, peso Filipina minus 0,08 persen, yuan China minus 0,07 persen, dan baht Thailand minus 0,01 persen. 


Hal serupa terjadi di jajaran mata uang utama negara maju. Rubel Rusia melemah 0,12 persen, dolar Australia minus 0,03 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,01 persen.

Sedangkan lainnya terpantau masih menguat dari dolar AS. Dolar Kanada menguat 0,08 persen, euro Eropa 0,03 persen, dan franc Swiss 0,03 persen. 

Kendati menguat, Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat kurs rupiah kemungkinan berbalik arah jadi melemah pada perdagangan pasar spot sore nanti.

Proyeksinya, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp14.600 sampai Rp14.800 per dolar AS. 

Menurutnya, risiko pelemahan rupiah datang dari ketegangan hubungan antara AS dan China karena perintah penutupan kantor konsulat China di Houston, AS. Langkah AS itu kemungkinan akan mendapat balasan dari China dan memperburuk hubungan kedua negara.

"Ini mendorong pelemahan nilai tukar emerging market terhadap dolar AS, memburuknya hubungan dikhawatirkan merembet ke isu perdagangan," ucap Ariston kepada CNNIndonesia.com

Lebih lanjut, hubungan dagang yang kurang baik antara AS dan China membuat pelaku pasar semakin khawatir dengan prospek ekonomi ke depan. Padahal, ekonomi belum mampu pulih dari tekanan pandemi virus corona atau covid-19. 

"Selain itu, pasar juga masih khawatir penularan virus yang masih terus meninggi meskipun usaha-usaha penemuan vaksin sudah mengalami kemajuan," pungkas Ariston.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK