Jurus Testing Massal Faisal Basri untuk Jokowi Lawan Resesi

CNN Indonesia | Jumat, 24/07/2020 08:49 WIB
Ekonom Faisal Basri meminta pemerintah melakukan tes massal virus corona supaya ancaman resesi ekonomi yang menghantui RI bisa dicegah. Ekonom Faisal Basri menyebut testing massal perlu dilakukan pemerintah supaya hantu resesi tak menghinggapi ekonomi RI. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/Spt/14).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior Faisal Basri memberi cara ampuh bagi pemerintah untuk melawan ancaman resesi ekonomi; melakukan testing massal covid-19.

Ia mengatakan tes masal dapat mengendalikan penyebaran virus corona. Dengan tes itu pemerintah akan lebih mudah dalam melakukan penelusuran kontak orang yang terkena infeksi virus corona dan kemudian mengisolasi mereka.

Isolasi diharapkan bisa memutus mata rantai penularan virus sehingga, pemulihan ekonomi yang diharapkan bisa terwujud.


"Untuk mengupayakan agar perekonomian tidak terjerembab ke jurang yang dalam dan berkepanjangan akibat pandemi covid-19, tak ada cara lain kecuali dengan mengendalikan penyebaran virus melalui testing, testing, dan testing," katanya seperti dikutip dari blog pribadinya, faisalbasri.com, Jumat (24/7).

Faisal khawatir jika pemerintah memaksakan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya, kasus harian dan kematian terus melonjak.

Menurutnya, itu bisa memberikan risiko besar yang justru berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi.

Jika ingin menghindari resesi, dalam tiga bulan ke depan ia menyarankan pemerintahan Joko Widowo (Jokowi) melakukan upaya maksimum menjinakkan covid-19. Dengan demikian, maka harapan resesi berlangsung singkat, hanya pada kuartal II dan kuartal III 2020.

[Gambas:Video CNN]

"Kuartal IV 2020 ada harapan mulai tumbuh positif dan 2021 perekonomian bisa menikmati ekspansi yang cukup signifikan," imbuhnya.

Dengan skenario demikian, ia mengatakan RI dapat kembali ke jalur pertumbuhan jangka panjang sebelum wabah covid-19 benar-benar bisa diatasi dalam 2 sampai 3 tahun ke depan.

"Dengan begitu output loss bisa ditekan," pungkas Faisal.

Seperti diketahui, Indonesia terancam terperosok ke dalam jurang resesi jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal II dan III atau periode April-September terkontraksi. Untuk informasi, pertumbuhan RI pada kuartal I 2020 turun menjadi 2,97 persen dari pencapaian rata-rata per kuartal sebesar 5 persen.

Dengan proyeksi kontraksi di kuartal II, artinya pertumbuhan RI bertumpu pada kuartal III. Jika pada kuartal III pertumbuhan masih negatif, maka dipastikan Indonesia akan mengalami resesi menyusul jejak Singapura dan Korea Selatan.

(wel/agt)