CT soal Ekonomi di Masa Pandemi: Jangan Putus Asa

CNN Indonesia | Minggu, 26/07/2020 17:48 WIB
Chairul Tanjung mengakui dampak ekonomi saat pandemi Covid-19 lebih parah ketimbang krisis 1998 dan 2008. Tapi, dia yakin, ekonomi RI akan bangkit usai pandemi. Pendiri CT Corp Chairul Tanjung (CT). (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri CT Corp Chairul Tanjung (CT) mengaku optimistis perekonomian di Indonesia akan kembali bangkit pasca pandemi corona.

Menurut CT, di balik pandemi Covid-19 ada peluang yang lebih baik bagi Indonesia.

"Saya percaya itu. Jangan berputus asa, tetap optimis, karena di mana ada kesulitan pasti ada kemudahan. Di mana ada kesulitan, ada kemudahan, dan pasti ada kesempatan," kata Chairul saat acara Talkshow Virtual Alumni Mahasiswa Teladan Nasional 1987, Minggu (26/7/2020).


CT meminta masyarakat bersabar dan tetap berusaha untuk menghasilkan suatu perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

"Bertawakal tapi ikhtiar semaksimal mungkin. Dan percaya bahwa krisis ini, cobaan ini pasti menimbulkan sesuatu yang baik di kemudian hari untuk kita semua," imbuhnya.

CT mengakui jika dampak ekonomi pandemi Covid-19 lebih parah dibandingkan krisis 1998 dan 2008. Ia menyatakan pandemi Covid-19 tidak hanya sebatas masalah kesehatan tetapi menjadi masalah ekonomi yang luar biasa besar efeknya.

"Ternyata efek daripada penyebaran Covid-19 ini berakibat ekonomi yang lebih parah daripada krisis tahun 1998 dan krisis tahun 2008," ujarnya.

Kata dia, krisis 1998 disebabkan struktur perbankan yang rapuh. Pasalnya, kredit perbankan lebih banyak disalurkan kepada kelompok konglomerat pemilik bank saja. Imbasnya, begitu krisis terjadi banyak bank jatuh dan mayoritas konglomerat terdampak krisis 1998.

Namun, krisis ini tidak berdampak kepada masyarakat khususnya di sektor pertanian. Sebaliknya, kelompok ini justru mendapatkan manfaat krisis 1998 lantaran nilai tukar rupiah jatuh.

"Harga komoditas itu terpaut dengan kurs luar negeri, kurs asing sehingga harga komoditas pada saat itu naik luar biasa. Orang-orang yang tinggal di luar Jawa mendapatkan benefit (manfaat), orang-orang Jawa mendapatkan masalah. Jadi pada waktu itu krisis 1998 disebut sebagai krisis Jawa bukan krisis non Jawa," ucapnya.

Sedangkan pada krisis 2008, ekonomi Indonesia hanya terpukul dampak negatif pada satu tahun pertama. Setelah itu, lanjutnya, Indonesia sebagai negara berkembang justru mendapatkan dampak positif dari kebijakan Quantitative Easing (QE) sejumlah negara di Amerika dan Eropa.

Para investor dari negara tersebut, kata dia, melarikan dananya untuk mencari imbal hasil yang lebih menarik ke negara berkembang.

"Di antaranya masuk ke Indonesia dan kita mendapatkan efek dorongan yang luar biasa terhadap ekonomi kita," imbuhnya.

Sementara, pandemi Covid-19 menimbulkan dampak kepada semua sektor lantaran krisis ini menyangkut kesehatan manusia. Bahkan, akibat pembatasan aktivitas manusia maka pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 diprediksi negatif.

Kontraksi ekonomi ini akan memberikan dampak negatif pada ekonomi karena pendapatan masyarakat berkurang. Ujungnya, pandemi Covid-19 ini juga akan mengerek tingkat kemiskinan
 
"Kenapa? Karena banyak di antara mereka akan kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan juga akan memotong income (pendapatan) karyawannya, bahkan beberapa terpaksa mem-PHK, sehingga banyak namanya orang akan kehilangan pekerjaan," tuturnya.

(ulf/ugo)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK