Mengenal Perekonomian Hong Kong yang Kena Resesi 4 Kuartal

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 11:24 WIB
Hong Kong genap mengalami resesi sejak 2019. Negara ini terperosok kian dalam ke jurang resesi pada kuartal II 2020 dengan laju ekonomi turun 9 persen. Hong Kong genap mengalami resesi sejak 2019. Negara ini terperosok kian dalam ke jurang resesi pada kuartal II 2020 dengan laju ekonomi turun 9 persen. Ilustrasi. (Anthony WALLACE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hong Kong genap mengalami resesi ekonomi selama 4 kuartal berturut-turut sejak 2019. Hong Kong terperosok kian dalam ke jurang resesi pada kuartal II 2020, terkontraksi 9 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Tercatat pada kuartal III 2019 lalu, laju ekonomi Hong Kong minus 2,8 persen karena aksi demo berkepanjangan.

Pada kuartal IV 2019, ekonomi Hong Kong kembali jatuh minus 3 persen yang membuat Hong Kong resmi terperosok ke jurang resesi.


Memasuki 2020, resesi ekonomi Hong Kong justru makin dalam akibat pandemi Covid-19. Pada tiga bulan pertama 2020 ekonomi Hong Kong tercatat minus 9,1 persen. 

Ekonom Capital Economics Martin Rasmusen menyebut bahwa perekonomian Hong Kong mulai terguncang sejak tahun lalu saat konflik dengan China mencuat. Aksi protes yang berlarut dan perang dagang antara China-AS pun memperburuk keadaan.

Ia menilai keadaan bisa jauh lebih buruk. Setidaknya, penurunan GDP Hong Kong tak terlalu tajam, bahkan tergolong stabil.

"Ekonomi Hong Kong stabil pada kuartal terakhir setelah stimulus fiskal digelontorkan dan sisi permintaan dari China menguat. Ini mengimbangi konsumsi dan investasi yang lesu," katanya seperti dikutip dari CNN, (30/7).

Setelah perseteruannya dengan China mereda, ekonomi Hong Kong tak kunjung membaik akibat pandemi virus corona.

Hong Kong sebagai negara dengan pasar terbebas kedua dunia setelah Singapura terpukul hebat akibat dibatasinya pergerakan barang dan jasa global.

Melansir berbagai sumber, tingkat ketergantungan Hong Kong terhadap perdagangan dan keuangan internasional sangat besar. Nilai dari perdagangan barang dan jasa sekitar empat kali dari produk domestik bruto (PDB) Hong Kong.

Keterbatasan sumber daya alam mengharuskan Hong Kong mengandalkan impor untuk konsumsi bahan mentah dan makanan. China menjadi mitra kerja terbesar Hong Kong, secara nilai menguasai hampir setengah dari total kegiatan perdagangan.

Iklim dagang internasional Hong Kong ditopang oleh kebijakan ramah pajak. Hong Kong tidak memiliki tarif untuk barang impor dan hanya memungut cukai untuk empat komoditas, yaitu minuman keras, tembakau, minyak, dan alkohol metil.

Selain perdagangan internasional, Hong Kong juga mengandalkan penjualan tanah sebagai salah satu pendapatan utamanya. Tak mengherankan, sebab tanah di Hong Kong merupakan salah satu yang termahal di dunia.

Pada tahun buku 2017-2018, tercatat 27 persen atau setara HK$612 miliar dari pendapatan Hong Kong berasal dari penjualan tanah.

Hong Kong juga mengandalkan sektor pariwisata sebagai penopang perekonomiannya. Pada 2017, kunjungan turis mencatatkan 4 persen dari PDB dan mempekerjakan sebanyak 7 persen dari total angkatan kerja.

Pada 2018, angka kunjungan asing melonjak 11,4 persen dari tahun sebelumnya menjadi 65,15 juta orang sepanjang tahun. Sementara, pada 8 bulan pertama 2019, kunjungan kembali naik sebanyak 4 persen dari periode sama tahun sebelumnya.

Pasar terbuka Hong Kong juga didukung oleh regulasi investasi yang dinyatakan sebagai salah satu terbaik dunia. Sektor jasa tercatat berkontribusi sekitar 90 persen dari PDB negara.

Namun, dengan kembalinya Hong Kong menjadi bagian dari kesatuan China, diproyeksikan dinamika investasi Hong Kong akan menjadi lebih konservatif.

Kejayaan perdagangan internasional Hong Kong tampaknya berbalik arah membebani pemulihan ekonomi negara berbendera kelopak bunga tersebut.

Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan mengatakan Hong Kong menghadapi jalan bergelombang menuju pemulihan ekonomi. Sebab, kasus baru virus corona di Hong Kong juga melonjak akhir-akhir ini.

Imbasnya, pemerintah Hong Kong kembali memberlakukan pembatasan sosial.

"Bersama-sama dengan terulangnya epidemi lokal baru-baru ini, (faktor-faktor ini) menunjukkan bahwa mungkin diperlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan bagi ekonomi lokal untuk pulih," kata Chan.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)