Ekonomi Digital Perbesar Beban Fiskal Pemerintah saat Corona

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 08:17 WIB
Wamen BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan ekonomi digital belum sentuh masyarakat berpenghasilan rendah yang tertekan corona sehingga mereka tetap butuh bansos. Budi Gunadi Sadikin mengatakan ekonomi digital masih memberi beban fiskal selama masa pandemi corona. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri BUMN I merangkap Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan aktivitas ekonomi digital yang terjadi selama pandemi virus corona belum bisa memberikan kontribusi sama ke perekonomian seperti kontak fisik.

Hal ini justru membuat beban fiskal pemerintah untuk mendorong ekonomi semakin meningkat.

"Akibatnya, semakin lama kontak ini akan semakin banyak ruang fiskal yang harus dipakai untuk menjembatani karena aktivitas ekonomi belum kembali," ungkap Budi saat konferensi pers virtual dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/7).


Budi mengatakan karena masalah itu pemerintah masih perlu terus memberikan berbagai bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan stimulus untuk dunia usaha.

Saat ini, pemerintah sudah menyediakan ruang fiskal sekitar Rp659,2 triliun untuk penanganan dampak pandemi virus corona atau covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Untuk itu, pemerintah terus berusaha mengendalikan penyebaran virus corona agar masyarakat bisa melakukan aktivitas ekonomi secara kontak fisik.

Hanya saja, pemerintah meminta masyarakat juga bisa menerapkan protokol kesehatan nasional ketika menjalankan aktivitasnya saat ini di masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah pusat juga meminta pemerintah daerah agar bisa mengawasi ketat pelaksanaan protokol kesehatan di tempat mereka masing-masing.

"Karena kalau kita terus menerus lockdown tidak akan tahan ruang fiskal kita. Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama membangun rasa aman dengan protokol kesehatan," katanya.

Lebih lanjut, Budi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkontraksi pada kuartal II 2020. Sementara untuk kuartal III 2020 diperkirakan masih ada harapan untuk tidak negatif, sehingga resesi ekonomi atau pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut bisa dihindari.

"Peluang memperoleh pertumbuhan yang tidak negatif masih ada asalkan kita bisa bersama-sama memastikan rasa aman terbentuk," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkontraksi minus 4,3 persen pada kuartal II 2020. Sementara kuartal III diperkirakan 0,4 persen, sehingga ekonomi sedikit di atas nol persen untuk keseluruhan tahun ini.

(uli/agt)