Dampak Resesi Hong Kong Terhadap Ekonomi RI

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 10:40 WIB
Resesi Hong Kong kembali berlanjut setelah laju ekonominya turun 9 persen pada kuartal II 2020 karena pandemi corona. Resesi Hong Kong kembali berlanjut setelah laju ekonominya turun 9 persen pada kuartal II 2020 karena pandemi corona. Ilustrasi. (DALE DE LA REY / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Hong Kong mengalami resesi ekonomi berlanjut yang terjadi sejak tahun lalu. Bahkan, pandemi covid-19 membuat resesi ekonomi Hong Kong makin dalam setelah pertumbuhan ekonomi Hong Kong pada kuartal II 2020 tercatat minus 9 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan resesi ekonomi Hong Kong akan mempengaruhi beberapa aspek ekonomi Tanah Air.

Dari sisi investasi, Hong Kong merupakan investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Singapura dan China. BKPM mencatat investasi Hong Kong pada semester I 2020 mencapai US$1,8 miliar atau 13,2 persen dari total investasi.


Selain itu, Hong kong adalah hub keuangan dunia, serupa dengan Singapura. Jadi, banyak perusahaan asing yang memiliki kantor pusat di Hong Kong.

Ia khawatir jika resesi ekonomi mengganggu kantor pusat perusahaan keuangan tersebut, maka keputusan investasi di Indonesia bisa tertunda sampai ada tanda-tanda pemulihan ekonomi.

"Imbasnya pada serapan tenaga kerja dari investasi asing atau penanaman modal asing pasti menurun di sepanjang 2020," ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Dari sisi perdagangan, kata dia, Hong Kong juga mempunyai peran strategis sebagai hub produk ekspor Indonesia sebelum masuk ke China. Hong Kong juga merupakan salah satu mitra dagang Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan kedua negara mencapai US$2,26 miliar sepanjang Januari-Mei 2020. Namun, nilainya turun 3,35 persen dari periode yang sama tahun lalu yakni US$2,34 miliar.

Ekspor ke Hong Kong naik 11,58 persen dari US$1,02 miliar menjadi US$1,14 miliar pada Januari-Mei 2020. Namun, impornya turun 15,06 persen dari US$1,31 miliar menjadi US$1,11 miliar.

"Apakah mungkin permintaan ekspor Indonesia ikut turun karena Hong kong minus pertumbuhannya, bisa jadi," ujarnya.

Terakhir, kata dia, resesi ekonomi Hong Kong memberikan dampak kepada kesejahteraan tenaga kerja Indonesia di Hongkong sebagai kontributor penting devisa. Ia memprediksi kiriman uang dari pekerja tersebut kepada keluarganya di Indonesia atau remitansi juga berkurang.

"Yang rugi juga keluarga pekerja migran di Indonesia akibat resesi Hong Kong. Ujungnya ke daya beli masyarakat khususnya di daerah asal TKI," katanya.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia perlu mewaspadai efek domino resesi ekonomi Hongkong kepada sektor keuangan. Pasalnya, Hong Kong merupakan salah satu pusat keuangan dunia.

"Dalam jangka pendek, resesi Hong Kong ini bukan tidak mungkin akan berdampak pada psikologis investor, yang kemudian akan mempengaruhi volatilitas di pasar keuangan termasuk di Indonesia," katanya.

Namun, ia menilai dampak resesi Hong Kong tidak signifikan kepada sektor perdagangan. Sebab, Hong Kong bukanlah negara tujuan ekspor utama, maupun importir utama Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

"Total share (porsi) ekspor ke Hong Kong hanya 1 persen terhadap total ekspor Indonesia. Begitupun dengan impor, share impor Hong kong ke Indonesia juga relatif kecil hanya 5 persen," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun CNNIndonesia.com, kinerja ekonomi kuartal II 2020 membuat Hong Kong mencatatkan pertumbuhan negatif empat kali berturut. Tercatat pada kuartal III 2019 lalu, laju ekonomi Hong Kong minus 2,8 persen karena aksi demo berkepanjangan.

Pada kuartal IV 2019, ekonomi Hong Kong kembali jatuh minus 3 persen yang membuat Hong Kong resmi terperosok ke jurang resesi.

Memasuki 2020, resesi ekonomi Hong Kong justru makin dalam akibat pandemi Covid-19. Pada tiga bulan pertama 2020 ekonomi Hong Kong tercatat minus 9,1 persen. Kemudian, jatuh lebih dalam lagi menjadi minus 9 persen pada kuartal II 2020.

(ulf/sfr)