Shell Rugi Rp262,45 Triliun karena Harga Minyak Jatuh

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 17:56 WIB
Perusahaan migas Shell mencatat kerugian hingga Rp262,45 triliun karena anjloknya harga minyak mentah dunia akibat pandemi corona. Perusahaan migas Shell mencatat kerugian hingga Rp262,45 triliun karena anjloknya harga minyak mentah dunia akibat pandemi corona. Logo Shell. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Royal Dutch Shell, perusahaan minyak multinasional Inggris-Belanda, mencatat kerugian sebesar US$18,1 miliar setara Rp262,45 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) pada kuartal II 2020.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni laba bersih mencapai US$3 miliar atau Rp43,5 triliun. 

Manajemen Shell mengungkapkan kerugian muncul karena jatuhnya harga minyak mentah dunia. Hal ini membuat harga semua produk Shell ikut turun, seperti minyak, gas alam cair (LNG), dan gas berkarbon rendah. 


Penurunan harga juga diikuti berkurangnya permintaan, sehingga turut menurunkan penjualan dan produksi perusahaan. Produksi tercatat turun sekitar enam persen menjadi 3,4 juta barel setara minyak per hari.

Selain itu, beban operasional perusahaan juga naik menjadi US$16,8 miliar atau Rp243,6 triliun akibat tekanan ekonomi di tengah pandemi virus corona atau covid-19. 

"Ini akibat revisi harga (minyak) jangka menengah dan panjang serta asumsi prospek margin dalam menanggapi kondisi pandemi covid-19 dan makroekonomi, serta permintaan pasar energi," ungkap manajemen dalam keterangan resmi seperti dikutip dari AFP, Kamis (30/7). 

Perusahaan memperkirakan kerugian akan terus meningkat. Bahkan, menyentuh kisaran US$15 miliar sampai US$22 miliar atau Rp217,5 triliun sampai Rp319 triliun.

Pasalnya, sentimen negatif tidak hanya berasal dari penurunan harga minyak mentah dan pandemi corona, tetapi juga perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia. Di sisi lain, ada pengaruh dari kelebihan pasokan produsen minyak lain. 

"Kami terus fokus pada operasi yang aman, andal, dan langkah-langkah untuk memelihara arus kas untuk mendukung penguatan neraca keuangan kami," kata Kepala Eksekutif Shell Ben va Beurden. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)