Daftar Negara yang Diprediksi Selamat dari Resesi: China, RI

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 08:54 WIB
Ekonomi China negatif pada kuartal I, namun positif pada kuartal II. Sedang RI berpotensi selamat pada kuartal III, usai diproyeksi negatif pada kuartal II. Ekonomi China negatif pada kuartal I, namun kembali positif pada kuartal II. Sedang RI masih berpotensi selamat pada kuartal III, usai diproyeksi negatif pada kuartal II. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara besar mulai tumbang dan masuk ke dalam jurang resesi akibat pertumbuhan ekonomi-nya negatif dua kuartal berturut-turut. Terbaru, resesi dialami oleh Amerika Serikat (AS) akibat kontraksi ekonomi hingga minus 32,9 persen pada kuartal II 2020.

Sebelumnya pada kuartal I 2020, ekonomi negeri Paman Sam telah mengalami pertumbuhan negatif sebesar 5 persen. Resesi pada kuartal II tahun ini juga menempatkan AS ke kondisi perekonomian terburuk sejak 1947 silam.

Teranyar, kabar resesi datang Uni Eropa setelah perekonomian kuartal kedua mereka terkontraksi minus 11,9 persen. Pada kuartal sebelumnya, ekonomi benua biru telah terkontraksi hingga minus 3,2 persen.


Meski demikian sejumlah negara diprediksi bisa mempertahankan ekonominya untuk tetap tumbuh dan terhindar dari resesi. Beberapa di antaranya adalah China, India, Mesir dan Indonesia.

Seperti diketahui ekonomi China mampu tumbuh 3,2 persen pada kuartal II 2020 setelah mengalami kontraksi terburuknya, yakni minus 6,8 persen pada kuartal pertama 2020.

Ekonom Universitas Indonesia Fitra Faisal mengatakan populasi penduduk yang cukup besar membuat negara tersebut bisa mengandalkan konsumsi domestiknya untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

"Sehingga mereka relatif bisa survive (bertahan). Padahal, mereka pertama kali terkena covid-19. Jadi kekuatan domestik kunci yang bisa menyelamatkan perekonomian di tengah pandemi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com Senin (3/8).

Selain China, Indonesia juga berpotensi keluar dari lepas dari resesi. Pasalnya, ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik. Sementara, peran ekspor barang dan jasa relatif rendah dibanding negara-negara lain yang mengalami resesi.

Jika Indonesia mampu menggenjot konsumsi pada kuartal III dengan memaksimalkan program stimulus yang telah dirancang, maka perkonomian sepanjang Juli-September bisa tumbuh positif.

"Jadi selain pasar domestik yang besar negara-negara yang bisa survive biasanya partisipasi terhadap global production network-nya tidak terlalu besar. Nah Indonesia ini kriterianya seperti itu," tuturnya.

Negara lainnya yang berpotensi lolos dari resesi adalah Mesir yang populasi penduduknya yang mencapai 98 juta jiwa. Seperti diketahui pada kuartal pertama lalu, ekonomi Mesir tercatat masih bisa tumbuh 5 persen.

Sejumlah ekonom memprediksi perekonomian negara tersebut akan melambat menjadi 3,1 persen pada tahun ini akibat pandemi covid-19, namun tak sampai masuk ke dalam jurang resesi.

Dalam tiga tahun terakhir, perekonomian Mesir sendiri didorong oleh kenaikan pariwisata, remitansi pekerja Mesir di luar negeri serta investasi dari penemuan-penemuan ladang gas alam.

Sejak pandemi, kontribusi pariwisata runtuh, harga gas telah anjlok, dan remitansi pekerja terancam dengan penurunan pendapatan minyak di negara-negara Teluk Arab, di mana banyak orang Mesir dipekerjakan.

Meski demikian Menteri Perencanaan Hala al-Saeed mengatakan perekonomian masih dapat ditopang konsumsi domestik dan ekonomi diperkirakan tetap tumbuh meskipun melambat menjadi 3,5 persen sepanjang 2020.

Terakhir, India juga diprediksi jadi negara yang berpotensi lolos dari resesi ekonomi. Pada kuartal I 2020, ekonomi India tumbuh sebesar 3,1 persen.

Meski pada kuartal II Goldman Sachs memprediksi produk domestik bruto (PDB) negeri Bollywood akan terkontraksi hingga 45 persen, namun negara tersebut akan rebound pada semester selanjutnya hingga 20 persen.

Meski terlepas dari resesi, pertumbuhan ekonomi India tetap akan berada di teritori negatif sepanjang tahun ini.

"Saya pikir kuartal ketiga dan kuartal keempat dari tahun fiskal saat ini, akan ada pemulihan dengan kurva berbentuk V yang sangat tajam," terang Ketua Komisi Keuangan ke-15 India NK Singh seperti dikutip Thehindu.com.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)