Manufaktur China Melaju, Paling Kencang Dalam 1 Dekade

CNN Indonesia | Senin, 03/08/2020 19:24 WIB
Industri manufaktur China melaju, terkencang dalam 10 tahun terakhir. Purchasing Managers Index China pun terangkat ke posisi 52,8 pada Juli. Industri manufaktur China melaju, terkencang dalam 10 tahun terakhir. Purchasing Managers Index China pun terangkat ke posisi 52,8 pada Juli. (AFP/Johannes Eisele).
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas industri manufaktur di China tumbuh pada laju tercepat dalam hampir satu dekade terakhir. Hal ini menandai momentum pemulihan ekonomi negeri tirai bambu saat negara-negara lain sedang berjuang untuk lolos dari resesi.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa cengkeraman pandemi covid-19 di berbagai negara bisa menahan laju pemulihan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Survei Caixin/Markit General Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) menunjukkan pesanan-pesanan yang masuk ke pabrik-pabrik di China telah membuat aktivitas manufaktur negeri tersebut meningkat dari 51,2 pada Juni 2020 menjadi 52,8 pada Juli lalu.


Peningkatan tersebut tercatat merupakan yang tercepat sejak Januari 2011. Julian Evans-Pritchard, Ekonom Senior China untuk Capital Economics, menuturkan survei tersebut melampaui perkiraan pasar.

Indeks Caixin China tetap berada di atas level 50, yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, dalam tiga bulan berturut-turut.

Survei tersebut juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan ekonomi China setelah mencatat periode tiga bulan terburuk dalam beberapa dekade.

Sementara, survei PMI resmi China yang dirilis pekan lalu, terutama mencakup bisnis besar dan perusahaan milik negara, menunjukkan ekspansi berturut-turut sektor industri negara tersebut.

"Stimulus langkah-langkah di Cina telah membuka jalan untuk periode pertumbuhan," ujar Evans-Pritchard seperti dikutip CNN.com Senin (3/8).

Pada Mei 2020 lalu, China berjanji akan menggelontorkan 3,6 triliun yuan (sekitar US$500 miliar) sebagai langkah-langkah stimulus tambahan, termasuk memungkinkan pemerintah daerah untuk menerbitkan lebih banyak obligasi untuk membangun jaringan 5G, kereta api, dan proyek infrastruktur lainnya.

Evans-Pritchard menambahkan bahwa kekuatan di bidang manufaktur dapat mengimbangi perjuangan di bidang lain, termasuk industri jasa.

Meski demikian, survei Caixin mengungkapkan beberapa titik lemah. Misalnya, pesanan ekspor baru dikontrak untuk bulan ketujuh berturut-turut karena virus corona membebani permintaan luar negeri. 

Pasar tenaga kerja juga berada di bawah tekanan, karena perusahaan mempertahankan pendekatan yang hati-hati dalam merektrut SDM.

"Kami memperingatkan bahwa PMI manufaktur dapat moderat dalam beberapa bulan mendatang karena momentum pemulihan melunak di seluruh dunia karena pandemi covid-19 yang berkepanjangan," tulis Analis Nomura dalam catatan penelitian tersebut.

Analis Nomura juga mengingatkan bahwa ekonomi China masih menghadapi banyak tantangan. Beijing masih terbukti sulit meyakinkan orang untuk membelanjakan uang lagi.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan AS-Cina dapat menekan baik ekspor maupun investasi manufaktur.

"Kami percaya masih terlalu dini bagi Beijing untuk melepas atau menghentikan pelonggaran dan langkah-langkah stimulus yang diumumkan di babak pertama," jelasnya.

Ia menambahkan Beijing kemungkinan juga enggan untuk meluncurkan lebih banyak stimulus di semester kedua tahun ini. Pasalnya, Pemerintah China baru-baru ini mengindikasikan mereka mungkin terus fokus pada peningkatan permintaan di dalam negeri. 

Terlebih, "sirkulasi domestik" sebagai pendorong utama pertumbuhan di masa depan adalah isu yang ditekankan pada pertemuan perumusan kebijakan yang diadakan oleh Politbiro, badan pengambil keputusan utama Partai Komunis China.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)