Pupuk Indonesia Setor Pajak dan Dividen Rp8,17 T ke Negara

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 04:00 WIB
Pupuk Indonesia menyetor pajak Rp7,28 triliun dan dividen Rp937,5 miliar karena perolehan labanya melampaui target pada 2019 lalu. Pupuk Indonesia menyetor pajak Rp7,28 triliun dan dividen Rp937,5 miliar karena perolehan labanya melampaui target pada 2019 lalu. (Dok. Pupuk Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyetor pajak dan dividen senilai Rp8,17 triliun pada 2019. Terdiri dari pajak Rp7,28 triliun dan dividen Rp937,5 miliar. 

Manajemen mengatakan setoran pajak kepada negara naik sekitar 32,94 persen dari Rp5,48 triliun pada 2018. Sementara, sumbangan dividen meningkat 21,94 persen dari Rp768,8 miliar pada periode yang sama. 

Sumbangan pajak dan dividen meningkat sejalan dengan performa positif perusahaan. Hal ini tercermin dari perolehan laba bersih sebesar Rp3,71 triliun atau setara 103,1 persen dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). 


Perolehan laba didukung oleh pendapatan yang mencapai Rp71,3 triliun. Pendapatan ditopang oleh bisnis penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 8,7 juta ton pada tahun lalu oleh anak usaha. 

Kemudian, juga berasal dari hasil penjualan pupuk ke sektor komersial sebanyak 3,87 juta ton atau mencapai 111,61 persen dari target RKAP. 

"Kami mengapresiasi upaya anak perusahaan, khususnya produsen pupuk dalam menjaga pasokan pupuk ke sektor subsidi, sehingga kebutuhan dapat terpenuhi sesuai alokasi," tulis manajemen seperti dikutip dari Antara, Selasa (4/8). 

Selain itu, ada peningkatan kinerja anak-anak perusahaan non-pupuk, seperti PT Rekayasa Industri, PT Pupuk Indonesia Energi, PT Mega Eltra, dan PT Pupuk Indonesia Logistik.

Di sisi lain, beban keuangan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena perusahaan melakukan pelunasan pembayaran pinjaman jangka pendek dan jangka panjang dari hasil pemasukan berupa pembayaran piutang subsidi dari pemerintah mencapai Rp9,7 triliun. 

"Penurunan ini sejalan dengan komitmen untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur sesuai dengan jatuh tempo pelunasan pinjaman," ungkapnya. 

Kendati begitu, pelunasan pembayaran pinjaman membuat arus kas perusahaan turun 66,3 persen dari Rp18,06 triliun menjadi Rp11,97 triliun. Hal ini juga membuat liabilitas atau kewajiban perusahaan turun menjadi Rp48 triliun. 

Sedangkan, aset perusahaan mencapai Rp135,55 triliun atau 100,96 persen dari target RKAP. Ekuitas naik Rp5,72 triliun menjadi Rp71,75 triliun.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)