Stafsus Jokowi Lihat Peluang RI Hindari Resesi

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 12:27 WIB
Stafsus Jokowi membantah teknikal resesi karena ekonomi tumbuh minus pada kuartal II. Ia justru optimis RI dapat keluar dari resesi pada kuartal III. Stafsus Jokowi, Arief Budimanta, membantah teknikal resesi karena ekonomi tumbuh minus pada kuartal II. Ia justru optimis RI dapat keluar dari resesi pada kuartal III. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Staf Khusus Presiden Jokowi, Arief Budimanta membantah teknikal resesi yang dialamatkan ke Indonesia karena pertumbuhan ekonomi kuartal kedua minus 5,32 persen. Dia menilai resesi bisa disematkan apabila pertumbuhan ekonomi negatif terjadi dua kuartal berturut-turut, bukan secara tahunan.

Malah, Indonesia bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tercatat positif. "Pada kuartal I, kita masih tumbuh positif 2,97 persen dan kuartal III kita masih punya peluang kembali ke level positif setelah bergeraknya aktivitas perekonomian," ujarnya, Senin (10/8).

Lagipula, sambung dia, pertumbuhan negatif pada kuartal kedua telah diprediksi sebelumnya sebagai konsekuensi pandemi covid-19. Konsekuensi yang dimaksud adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB).


"Sekarang, aktivitas perekonomian bergerak lagi dengan protokol adaptasi kebiasaan baru," jelasnya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi negatif atau kontraksi tidak hanya terjadi di dalam negeri. Hampir seluruh negara mengalami hal serupa, bahkan lebih dalam lagi.

Ia mencontohkan Uni Eropa minus 14,4 persen, Singapura minus 12,6 persen, Amerika Serikat minus 9,5 persen, dan Malaysia minus 8,4 persen.

"Artinya, kondisi kita relatif lebih dibandingkan dengan beberapa negara tersebut, karena sejak awal Presiden memberikan arahan melakukan program dan fasilitas yang sifatnya counter cyclical untuk mendorong ekonomi domestik," imbuh Arief.

Harapan tidak jatuh ke lubang resesi juga tampak dari perbaikan-perbaikan, seperti indeks PMI (manufaktur) RI yang meningkat dari 39,1 per Juni menjadi 46,9 per Juli. Diharapkan, indeks PMI meningkat hingga ke atas 50.

"Potensi ekonomi dalam negeri harus dijaga untuk menopang perekonomian tumbuh positif. Konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, maupun investasi harus didorong untuk bisa tumbuh dan Indonesia terhindari dari ancaman resesi ekonomi," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(bir/agt)