Bio Farma Produksi 2 Juta Alat Tes PCR Corona Mulai September

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 19:58 WIB
Menristek Bambang Brodjonegoro menyebut Bio Farma akan meningkatkan produksi alat tes PCR menjadi 2 juta unit mulai September 2020. Menristek Bambang Brodjonegoro menyebut Bio Farma akan meningkatkan produksi alat tes PCR menjadi 2 juta unit mulai September 2020. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan PT Bio Farma (Persero) akan memproduksi dua juta perangkat tes PCR untuk mendeteksi covid-19. Targetnya, Bio Farma mulai memproduksi alat tes tersebut mulai September mendatang.

"Perlengkapan PCR test kit yang kami kembangkan telah diproduksi Bio Farma sebanyak 1,4 juta kit per bulan, dan bulan September nanti sudah menjadi dua juta kit per bulan," katanya dikutip dari Antara, Senin (10/8).

Ia mengatakan peningkatan jumlah produksi alat tes PCR dalam negeri ini akan mendukung percepatan pendeteksian virus corona. Selain itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga tengah mengembangkan Mobile Lab BSL-2 versi bus.


Saat ini, sebanyak 12 unit versi pertama Mobile Lab BSL-2 bukan berbasis bus telah dipesan oleh berbagai pihak.

Menristek juga menyampaikan berbagai hasil penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan dalam merespons pandemi Covid-19. Meliputi, PCR test kit, ventilator, alat tes diagnostik cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT), alat deteksi dini Covid-19, Mobile Lab BSL-2, sel punca, vaksin Merah Putih, dan imunomodulator.

Untuk RDT yang digunakan sebagai deteksi IgG/IgM terhadap SARS-CoV-2 penyebab covid-19 merupakan kerja sama BPPT, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga. Hasil inovasi itu telah diproduksi oleh perusahaan dalam negeri dengan kapasitas 350 ribu per bulan pada Agustus. rencananya kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 1-2 juta per bulan.

Terkait perkembangan vaksin Merah Putih, Bambang mengatakan upaya produksi protein rekombinan untuk membuat vaksin telah diselesaikan. Tim vaksin Merah Putih juga akan mencoba platform lainnya seperti inactivated dan mRNA.

[Gambas:Video CNN]

"Sebagai upaya kemandirian kesehatan dan bahan baku obat nasional, pengembangan vaksin Merah Putih terhadap semua strain virus covid-19 terus dilakukan," ujarnya.

Pengembangan vaksin itu dikerjakan oleh tim yang dipimpin Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Selain itu, Eijkman dan Bio Farma juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia dalam pengembangan vaksin guna memastikan kehalalan vaksin.

Sejumlah perguruan tinggi juga ikut terlibat antara lain, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Andalas, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Sumatera Utara.

(ulf/sfr)