Corona, Permintaan Minyak Global Diramal Turun 8,1 Juta Bph

CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 20:28 WIB
Badan Energi Internasional (EIA) memperkiraan permintaan minyak dunia merosot tahun ini hingga 8,1 juta barel per hari (bph) karena pandemi virus corona. Badan Energi Internasional (EIA) memperkiraan permintaan minyak dunia merosot tahun ini hingga 8,1 juta barel per hari (bph) karena pandemi virus corona. Ilustrasi. (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyatakan pandemi covid-19 membebani permintaan minyak global. Hal ini seiring dengan terpuruknya sektor penerbangan dan transportasi darat serta penerapan penguncian wilayah (lockdown) yang bertujuan memutus rantai penyebaran virus corona.

"Pandemi covid-19 telah lama membayangi permintaan minyak yang sekarang kami perkirakan turun sebanyak 8,1 juta barel per hari (bph) secara tahunan (year on year) pada 2020," tulis IEA dalam laporan bulanan teranyar, seperti dikutip dari AFP pada Kamis (13/8).

Secara keseluruhan, IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global sepanjang 2020 menjadi 91,9 juta bph. Proyeksi itu menjadi penurunan pertama dalam beberapa bulan terakhir.


Meski IEA memperkirakan permintaan akan pulih pada 2021, naik menjadi 97,1 juta bph, proyeksi masih lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

"Kami telah merevisi proyeksi permintaan 2021 kami karena sektor penerbangan tampaknya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Hingga Desember 2021, konsumsi minyak global diramal akan tetap lebih rendah 2 persen dari capaian akhir 2019," lanjut IEA.

Lesunya permintaan minyak dari transportasi darat sejalan dengan keputusan masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tak mendesak. Selain itu, kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) turut menekan konsumsi minyak.

Sementara, pada angkutan udara, kebijakan negara di dunia menutup perbatasan serta melakukan serangkaian tes covid-19 terhadap penumpang pesawat berdampak negatif.

[Gambas:Video CNN]

"Itu berarti prospek permintaan bahan bakar pesawat kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir karena virus corona telah menyebar lebih luas," terang IEA.

Di sisi lain, perjalanan domestik telah pulih di China dan AS, serta angka penerbangan antara negara-negara Eropa terus meningkat. Kendati demikian, IEA memperkirakan lalu lintas global hanya mencapai sekitar dua per tiga dari level normal pada Juli lalu. 

Sebagai catatan, lalu lintas global anjlok sebesar 79 persen selama Mei dan 75 persen pada Juni 2020.

(wel/sfr)