Potong Gaji dan PHK, Ketakutan Pekerja Bila RI Resesi

CNN Indonesia | Senin, 31/08/2020 15:42 WIB
Sejumlah pekerja mengungkapkan kekhawatiran mereka jika resesi menghampiri Indonesia pada kuartal III 2020. Kekhawatiran menyangkut potong gaji dan PHK. Sejumlah pekerja khawatir kalau resesi ekonomi benar melanda Indonesia pada kuartal III 2020 akan berdampak ke gaji dan pekerjaan mereka. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Peluang Indonesia untuk masuk ke resesi di kuartal III 2020 makin terbuka lebar. Bahkan Menko Polhukam Mahfud MD sudah memastikan ekonomi RI akan mengalami resesi pada bulan depan.

Kepastian sudah mencapai 99,9 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyatakan berdasarkan skenario terburuk yang dimiliki pemerintah saat ini, ekonomi kuartal III akan berada di kisaran 0 persen sampai dengan minus 2 persen. 

Lantas bagaimana respons masyarakat terhadap situasi ini?


Salah satu karyawan swasta di Jakarta Barat bernama Assauma mengaku belum terlalu cemas dengan ancaman resesi ekonomi yang mengintai RI pada kuartal III tahun ini. Maklum, ia melihat aktivitas ekonomi sudah mulai berjalan normal meski pemerintah masih memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ia sendiri mengaku tak begitu memahami indikator perekonomian masuk ke dalam resesi selain mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut.

"Yakin enggaknya akan resesi, masih 50 banding 50 Mungkin di 2020. Indonesia masih bisa bertahan. Enggak tahu kalau di 2021 (kalau belum ada vaksin)," ucapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com Senin (31/8).

Jika pun Indonesia masuk ke dalam resesi di tahun ini, ia berharap tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal termasuk terhadap dirinya yang kini berstatus pegawai kontrak.

"Yang ditakutkan secara pribadi kehilangan pekerjaan. Secara umum daya beli berkurang, susah cari kerja lagi, masa depan jadi tidak menentu," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Berbeda dengan Assauma, seorang content writer di Jakarta yang biasa dipanggil Mumu mengatakan resesi sebenarnya sudah  terasa sejak awal kuartal ketiga ini. Sebagai orang yang bekerja di agensi, ia merasakan banyak perusahaan yang telah melakukan efisiensi belanja iklan hingga sekarang.

Ujung-ujungnya, perusahaan tempatnya bekerja juga terkena dampak dan harus ikut melakukan efisiensi.

"Kami hidup kan dari content promosi, jadi kalau memang semua perusahaan rugi, tutup, gimana perusahaan mau gaji gue dan teman-teman," ucapnya.

Di sisi lain ia juga menghawatirkan keluarganya yang bekerja sebagai sebagai pedagang. Pasalnya menurunnya aktivitas perkonomian akan sangat berampak pada sisi permintaan.

Otomatis omset yang terjadi di tengah beban harian yang tinggi juga turun.

"Ini yang jadi masalah. Tagihan bulanan kan banyak. Kalau misalnya omset turun, ya otomatis cicilan buat barang modal jualan juga kesendat. Dampaknya ikut kolaps juga," tuturnya.

Galang, seorang pegawai salah satu perusahaan media di Jakarta juga menyampaikan keresahan serupa. Meski terjadi lonjakan audience, bisnis media juga tertekan lantaran iklan yang masuk semakin minim.

Alhasil, sejak April lalu saja, perusahaannya sudah mulai merumahkan pegawai tanpa pesangon. "Akhirnya banyak yang beralih profesi juga ada yang jualan, bahkan ada yang dagang ikan cupang," ucapnya.

Ia sendiri merasa was-was jika resesi terjadi dan berlangsung lama. Terlebih hal ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang memaksa orang-orang untuk bekerja dari rumah.

"Jam kerja aja tuh sekarang lebih dikurangi waktunya 5 hari kerja dua hari libur jadi cuma 3 hari kerja . Gaji pokok udah dipotong sampai 25 persen. Kalau nanti resesi mau gimana lagi," tandasnya.

(hrf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK