Corona, Ekonom Minta Masyarakat Maklumi Lonjakan Utang RI

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 14:30 WIB
Ekonom menilai lonjakan utang pemerintah di tengah pandemi corona tak bisa dihindari dan perlu dimaklumi karena itu untuk membantu masyarakat. Ekonom meminta masyarakat memaklumi lonjakan utang pemerintah di tengah pandemi karena itu tidak bisa dihindari. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengkritik pandangan sejumlah kalangan terhadap lonjakan utang pemerintah di tengah pandemi virus corona.

Ia mengatakan peningkatan utang merupakan hal logis. Pasalnya, pemerintah memang membutuhkan uang banyak untuk menangani virus corona. 

Ia mengatakan kritik terhadap peningkatan utang di masa pandemi hanya terjadi di Indonesia.


"Saya selalu katakan, hanya Indonesia yang terlalu banyak kritik terhadap terjadinya pelebaran defisit dan lonjakan utang, karena ini memang dua hal yang tidak bisa kita elakkan," ujarnya dalam Forum Diskusi Salemba, Rabu (16/9).

Ia mengatakan di tengah kondisi seperti ini sejumlah pihak seharusnya tidak mempermasalahkan pelebaran defisit dan penambahan utang lantaran hal itu dilakukan pemerintah untuk untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan covid-19.

"Hanya di Indonesia yang kritik begitu tajam terkait pelebaran defisit. Di sisi lain, harapan pemerintah mengucurkan banyak bantuan juga tetap tinggi. Jadi, ini sangat kontradiktif kalau kita harapkan pemerintah mengeluarkan banyak bantuan ya pasti akan terjadi pelebaran defisit kalau terjadi pelebaran defisit ya terjadi lonjakan utang, itu konsekuensi yang sangat logis," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah memprediksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 6,34 persen dari PDB, setara dengan Rp 1.039,2 triliun. Pelebaran defisit ini untuk memenuhi kebutuhan pendanaan Program Pemulihan Ekonomi (PEN) sesuai dengan Perpres 72 Tahun 2020.

Sementara itu, secara total defisit APBN semester I 2020 telah mencapai Rp257,8 triliun, atau setara 1,57 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit ini berdampak pada tambahan pembiayaan utang. Sepanjang semester I 2020, pembiayaan utang mencapai Rp421,5 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN (netto) Rp430,4 triliun dan pinjaman (netto) negatif Rp8,9 triliun.

Sementara itu, kritik terkait penerbitan utang terus berdatangan. Salah satunya datang dari Ekonom Senior Indef Didik J. Rachbini yang mengatakan Indonesia sudah masuk dalam perangkap utang.

Pasalnya, pemerintah menambah utang untuk membayar utang maupun bunga utang.

"Sekarang kita ini sudah masuk dalam perangkap utang, harus utang untuk bayar utang, ini sudah relatif berat," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual belum lama ini.

(ulf/agt)