Corona, 2,7 Juta Warga Inggris Minta Tunjangan Pengangguran

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 06:05 WIB
Pengajuan klaim tunjangan pengangguran di Inggris meningkat seiring menanjaknya tingkat pengangguran. Pengajuan klaim tunjangan pengangguran di Inggris meningkat seiring menanjaknya tingkat pengangguran. Ilustrasi. (Pixabay/skeeze).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Inggris mencatat 2,7 juta warga mengajukan klaim tunjangan pengangguran pada Agustus. Angka itu menanjak hampir 121 persen sejak Inggris menerapkan penguncian wilayah (lockdown) untuk mencegah penyebaran pandemi virus corona pada Maret lalu.

Kenaikan klaim itu sejalan dengan meningkatnya tingkat pengangguran Inggris hingga menembus 4 persen dari total angkatan kerja.

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris mencatat tingkat pengangguran Inggris mencapai 4,1 persen selama periode Mei-Juli. Angka itu lebih tinggi dari periode Februari-April,3.9 persen.


ONS juga mencatat sebanyak 695 ribu pekerja tidak lagi menerima gaji sejak Maret.

"Dengan jumlah pegawai yang menerima gaji menurun lagi pada Agustus dan baik jumlah pengangguran dan pengurangan pekerja meningkat pada Juli, jelas bahwa virus corona masih berdampak besar pada dunia kerja," ujar Direktur Statistik Ekonomi ONS Darren Morgan seperti dikutip dari AFP, Selasa (15/9).

Di sisi lain, peningkatan angka pengangguran sebagian tertahan oleh meningkatnya lapangan kerja di sektor makanan. Pandemi covid-19 membuat warga lebih memilih berbelanja online.

Grup Domino's Pizza di Amerika Serikat telah merekrut 5.000 pekerja. Sementara, supermarket Tesco menambah jumlah pekerja hingga 16 ribu orang.

[Gambas:Video CNN]

"Beberapa dampak pandemi pada pasar tenaga kerja mulai memudar pada Juli seiring sebagian kegiatan ekonomi kembali dibuka," tambah Morgan.

Analis memperkirakan situasi akan memburuk dalam beberapa bulan ke depan mengingat program subsidi upah dari pemerintah akan berakhir pada Oktober. Sebagai catatan, hampir 10 juta pekerja menerima bantuan subsidi upah dari pemerintah Inggris.

"Jumlah tenaga kerja akan turun tajam dan jumlah pengangguran bakal naik lebih cepat seiring memudarnya dampak skema bantuan subsidi yang akan berakhir pada akhir Oktober," ujar Ekonom Capital Economics Paul Dales.

(sfr/bir)