Menkeu Sebut Covid-19 Wake-up Call Investasi Hadapi Pandemi

CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2020 13:12 WIB
Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan penanganan pandemi membutuhkan alokasi anggaran yang besar dan menuntut dilakukan penajaman prioritas anggaran. Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan penanganan pandemi membutuhkan alokasi anggaran yang besar dan menuntut dilakukan penajaman prioritas anggaran. CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Covid-19 merupakan wake-up call bagi dunia tentang pentingnya investasi dalam menyiapkan respons menghadapi pandemi.

Karena itu, pemerintah Indonesia terus melakukan penguatan sektor kesehatan dalam rangka memastikan akses bagi setiap orang terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, serta melakukan upaya pemulihan ekonomi dengan memberikan dukungan terhadap masyarakat yang terdampak, termasuk UMKM dan dunia usaha.

Hal itu ia sampaikan dalam pertemuan G20 secara virtual yang bertajuk "Key Role In Responding To The Current Crisis And Addressing Gaps In Global Pandemic Preparedness And Response" pada Kamis (17/9).


"Pandemi Covid-19 merupakan wake-up call bagi dunia tentang pentingnya investasi dalam pengembangan kapasitas kesiapan dan respons menghadapi pandemi," ujar Sri Mulyani seperti dikutip dari keterangan resmi, Minggu (20/9).

Ani, sapaan akrabnya juga menyatakan bahwa menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak ada negara yang telah sepenuhnya siap untuk menghadapi pandemi yang menyebar secara cepat dan berdampak besar pada kehidupan.

"Masih terdapat ketimpangan (gap) atas kapasitas pandemic preparedness, baik pada level nasional maupun level global," ucapnya.

Pada level nasional, kesenjangan kapasitas tersebut pada umumnya terletak pada kapasitas sistem surveillance pandemi yang belum kuat, sistem kesehatan yang terbatas, koordinasi antar lembaga yang belum efektif, dan komunikasi publik yang belum optimal.

"Sedangkan pada level global, kesenjangan kapasitas mencakup pada kemampuan untuk melakukan proses surveillance and prevention yang terbatas, kapasitas sistem kesehatan dan supply chain yang masih lemah, koordinasi global leadership yang belum optimal dan koordinasi research and development yang belum kuat," imbuh Ani.

Ia pun mengingatkan kembali peran G20 bersama lembaga pembangunan multilateral dan organisasi internasional, termasuk WHO, sangat penting dalam upaya mengendalikan Covid-19 dan mendorong pemulihan perekonomian global.

"Langkah-langkah penanganan tersebut tentunya membutuhkan alokasi anggaran yang besar, yang menuntut dilakukannya penajaman prioritas anggaran serta tetap menjaga keberlangsungan fiskal," jelas Sri Mulyani.

Bak gayung bersambut, para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 juga menegaskan pentingnya prinsip adil, merata dan terjangkau (fair, affordable and equitable) bagi semua negara di dunia atas akses terhadap peralatan medis dan obat-obatan yang dibutuhkan, termasuk vaksin Covid-19.

[Gambas:Video CNN]

Dalam mendukung hal tersebut, G20 mendorong aksi global melalui inisiatif Covid-19 Tools Accelerator (ACT-A) dan COVAX Facility, serta mendukung voluntary licensing of intellectual property.

Sementara itu, lembaga pembangunan multilateral didorong untuk meningkatkan dukungan mereka bagi pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi negara-negara yang membutuhkan.

Negara-negara G20 akan melanjutkan implementasi kebijakan untuk melindungi nyawa, menjaga lapangan pekerjaan dan pendapatan, mendukung pemulihan ekonomi global, serta meningkatkan ketahanan sistem kesehatan dan sistem keuangan.

(hrf/sfr)