Petani Menjerit, Pupuk Subsidi Mulai Hilang di Pasaran

CNN Indonesia | Rabu, 23/09/2020 17:01 WIB
Pupuk subsidi yang mulai hilang di pasaran membuat sejumlah petani di Jawa Tengah harus membeli pupuk nonsubsidi yang lebih mahal. Kelangkaan pupuk subsidi di pasaran membuat sejumlah petani di Jawa Tengah harus membeli pupuk nonsubsidi yang lebih mahal. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rudi Mulya).
Jakarta, CNN Indonesia --

Petani di sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai kesulitan menemukan pupuk subsidi di pasaran. Hal ini membuat mereka harus mengeluarkan ongkos lebih besar jelang musim tanam.

Sojo, Ketua Kelompok Tani Wana Lestari 1 di Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali, misalnya, mengatakan pupuk subsidi mulai hilang sejak awal September.

Kelangkaan ini membuat mereka harus menambah biaya sebesar Rp50 ribu untuk membeli satu sak atau karung pupuk nonsubsidi.


"Kami sudah kesulitan dari awal bulan September. Baru kali ini di tahun-tahun sebelumnya enggak pernah," ucapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com Rabu (24/9).

Hingga saat ini, kata dia, petani juga belum mendapatkan kepastian dari Dinas Pertanian setempat terkait distribusi tambahan pupuk subsidi.

Karena itu, ia berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan kepada para petani untuk dapat mengakses pupuk dengan harga murah jelang musim tanaman. Jika tidak, mereka bisa tekor jutaan rupiah. Pasalnya, untuk tiap satu hektar lahan mereka membutuhkan 30 sak pupuk.

"Enggak cuma di Kemusu ini, di kecamatan lain juga sama. Saya lagi di Blora, petani sini juga sudah mulai sulit cari pupuk (subsidi)," imbuhnya.

Hal serupa dialami M Singgih Darmawan, petani di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Ia menuturkan pupuk subsidi di wilayahnya mulai langka di pasaran sejak bulan lalu.

Hal ini membuat para petani di desanya kesulitan dan mulai mencari tambahan modal untuk menanam. "Pupuk SP36 subsidi belum turun dari bulan lalu," tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Untuk menyiasati kelangkaan ini, kata dia, sejumlah petani mulai mengurangi penggunaan pupuk. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut berpengaruh pada produktivitas pertanian. "Kalau pupuk sedikit produk hasilnya juga biasanya enggak seperti yang diharapkan," ucapnya.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy menuturkan kelangkaan yang dialami petani disebabkan berkurangnya pasokan pupuk subsidi sebanyak satu juta ton di tahun ini.

[Gambas:Video CNN]

Pasokan pupuk subsidi berkuran lantaran anggaran subsidi pupuk berkurang dari Rp 28,4 triliun pada 2019 menjadi Rp27,8 triliun di tahun ini.

"Kelangkaan karena alokasi berkurang, 8,8 juta ton pada tahun 2019, tapi di 2020 7,9 juta ton kami dikasihnya sama pemerintah," ucapnya.

Karena itulah, lanjut Edhy, Kementan meminta tambahan anggaran subsidi ke Kementerian Keuangan sebesar Rp3,1 triliun untuk memenuhi kekurangan pupuk subsidi di pasar tahun ini.

"Kami sudah ajukan ke Kementerian Keuangan,Rp3,1 triliun untuk 1 juta ton. Insyaallah kami usahakan minggu depan sudah cair lah," tandasnya.

(hrf/sfr)