Demi Iklan, Facebook dan YouTube Terima Audit 'Hate Speech'

cnn, CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 10:53 WIB
Facebook, YouTube, dan Twitter mengizinkan pihak luar mengaudit penanganan konten ujaran kebencian setelah sejumlah pengiklan memboikot platform itu. Facebook, YouTube, dan Twitter mengizinkan pihak luar mengaudit cara mereka menangani konten ujaran kebencian setelah sejumlah pengiklan memboikot platform.(AFP/Olivier Doulery).
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook, YouTube, dan Twitter mengizinkan pihak luar mengaudit cara mereka menangani konten berbahaya seperti ujaran kebencian setelah sejumlah pengiklan memboikot platform mereka.

Dikutip dari CNN Business, Federasi Pengiklan Dunia (The World Federation of Advertisers/WFA) mengumumkan kesepakatan dengan platform yang akan mengadopsi standar pelaporan konten berbahaya.

Perjanjian tersebut mengharuskan platform media sosial menjalani audit independen tentang bagaimana mereka mengkategorikan, melaporkan, dan menghapus konten berbahaya. Tujuannya adalah untuk melakukan tinjauan pada akhir tahun.


Platform juga akan diminta untuk mengembangkan sistem yang memberi pengiklan kontrol lebih besar atas jenis konten yang muncul di samping merek mereka.

"Sebagai penyandang dana ekosistem online, pengiklan memiliki peran penting dalam mendorong perubahan positif dan kami senang telah mencapai kesepakatan dengan platform tentang rencana aksi dan jadwal," kata CEO WFA Stephan Loerke dalam sebuah pernyataan, Kamis (24/9).

Pengiklan telah mengeluh selama bertahun-tahun tentang iklan mereka yang muncul di samping konten rasis atau kekerasan di media sosial. YouTube menghadapi aksi mogok dari para pengiklan.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah pembunuhan George Floyd. Bulan lalu, belasan perusahaan terbesar dunia memboikot Facebook karena gagal mencegah penyebaran ujaran kebencian.

Unilever dan Mars yang sempat memboikot Facebook mengatakan bahwa perjanjian tersebut menandai kemajuan signifikan dalam membuat media sosial lebih aman.

Seperti yang diketahui, sejumlah merek papan atas seperti Adidas, HP, Ford, Unilever, The North Face, Coca Cola, Honda dan lain-lain memboikot Facebook pada akhir Juni lalu.

Meski korporasi besar telah menjatuhkan harga saham Facebook dan mendorong manajemen untuk melakukan audit dan perbaikan, masih banyak yang dibutuhkan untuk menghentikan raksasa iklan digital tersebut.

Selama ini, Facebook menghasilkan US$69,7 miliar atau sekitar Rp975,8 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) dari iklan pada 2019, atau lebih dari 98 persen dari total pendapatan tahun ini. Tapi sebagian besar pemasukan iklan itu tidak datang dari perusahaan seperti Starbucks dan Coca Cola melainkan bisnis skala kecil dan menengah (UKM).

Menurut data dari firma riset pemasaran Pathmatics, Facebook memiliki 8 juta pengiklan di awal tahun ini. Dari jumlah tersebut, 100 merek papan atas dengan belanja iklan tertinggi hanya berkontribusi US$4,2 miliar terhadap pendapatan iklan Facebook tahun lalu atau hanya sekitar 6 persen dari pendapatan iklan platform.

Terakhir kali Facebook membagikan data itu sendiri pada bulan April 2019, ketika COO Sheryl Sandberg mengatakan 100 pengiklan teratas mewakili "kurang dari 20 persen" dari total pendapatan iklan.

Nicole Perrin, seorang analis di eMarketer mengatakan sebagian besar klien pengiklan Facebook adalah usaha kecil. "Mereka jelas sangat bergantung pada ekor panjang pengiklan bisnis kecil," katanya.

Bahkan, saat Facebook menghadapi boikot pengiklan terbesar dalam sejarahnya, banyaknya pengiklan di platformnya dapat melindungi perusahaan dari kejatuhan finansial terlalu banyak.

Pendapatan yang dihasilkannya dari iklan tersebut tumbuh seiring dengan basis dan jangkauan pengguna Facebook. Menurut data yang dikumpulkan oleh perusahaan riset eMarketer, pada 2009 pendapatan iklan Facebook sepanjang tahun sekitar US$761 juta.

Platform iklan Facebook memungkinkan mereka untuk membidik calon konsumen secara spesifik berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi, dan lainnya.

Peta permainan pun berubah, terutama untuk bisnis kecil tanpa kantong tebal yang ingin memiliki kemampuan iklan sama dengan perusahaan besar yang memasang iklan di TV. Facebook secara efektif menempatkan diri menjadi setengah dari duopoli iklan digital, dengan saingan utamanya Google.

Menurut data eMarketer, kedua perusahaan bersama-sama menyumbang lebih dari setengah dari semua pengeluaran iklan digital dan hampir 30 persen dari total pengeluaran iklan media di Amerika Serikat tahun lalu.

[Gambas:Video CNN]



(age/bir)