IHSG Melambung Berkat Sentimen Progres Vaksin Corona China

CNN Indonesia | Jumat, 25/09/2020 15:20 WIB
IHSG menguat 2,04 persen ke level 4.941 pada pukul 14.30 WIB berkat sentimen progres vaksin corona China. IHSG menguat 2,04 persen ke level 4.941 pada pukul 14.30 WIB berkat sentimen progres vaksin corona China. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melejit 2,04 persen pada perdagangan sesi II, Jumat (25/9). Pada pukul 14.30 WIB, indeks berada di level 4.941 atau menguat 98 poin dari pembukaan pagi hari di 4.867.

Mengutip RTI Infokom, sebanyak 293 saham menguat, 145 saham turun dan 128 lainnya stagnan. Tercatat, investor melakukan transaksi sebesar Rp6,6 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,13 miliar saham.

Namun, asing mencatatkan masih mencetak jual bersih atau net sell lumayan besar yakni Rp788 miliar.


Penguatan dipimpin oleh sektor industri dasar, menguat 3,64 persen. Selain, itu, terpantau saham-saham farmasi BUMN seperti KAEF dan INAF terbang kencang masing-masing naik 24,68 persen dan 24,89 persen.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebut penguatan disebabkan oleh teknikal rebound yang bersifat sementara mengingat saham-saham turun signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, ia tak memungkiri bahwa penguatan juga disebabkan oleh kabar soal salah satu ilmuwan WHO yang memuji progres vaksin corona buatan China. Kata Hans, pasar memang 'sensitif' dengan kabar soal vaksin.

Diketahui, ilmuwan WHO Soumya Swaminathan diberitakan oleh China Global Television Network (CGTN) menyebut beberapa program dan kandidat vaksin China terbukti berhasil di beberapa uji klinis yang berlangsung pada Senin (21/9) lalu.

[Gambas:Video CNN]

"Beberapa kandidat vaksin mereka sudah terbukti berhasil di beberapa uji klinis yang sedang berlangsung," ucap Soumya lewat cuplikan video, dikutip Jumat (25/9).

Lebih lanjut, Hans menyebut karena masalah terbesar RI yaitu pengendalian covid-19 belum teratasi, ia pesimistis penguatan akan berjalan stabil.

"Tampaknya orang langsung berburu saham lagi karena berpikir indeks sudah relatif lebih murah. Tidak ada berita berarti di pasar tapi memang indeks sudah turun cukup banyak, sehingga pemain ritel melakukan akumulasi beli," katanya kepada CNNIndonesia.com.

(wel/sfr)