Efek Digitalisasi, Bos BCA Sebut Potensi Back Office Hilang

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 17:30 WIB
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan posisi kerja back office akan hilang karena transformasi digital. Namun, tak ada PHK kepada staf back office. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan posisi kerja back office akan hilang karena transformasi digital. Namun, tak ada PHK kepada staf back office.(detikcom/Ari Saputra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan posisi kerja back office akan hilang karena transformasi digital. Namun, ia menegaskan perusahaan tidak akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para staf back office.

"Kami mengalami sekali dulu di BCA, back office bisa ratusan, ini yang kemarin timbul isu waduh akan ada PHK, tidak kami tidak ada PHK mereka kami akan coba transformasi. Tetapi, kerjaannya itu hilang, kerjaan back office hampir di setiap cabang itu hilang," ujarnya dalam webinar bertajuk 'Traditional Bank Vc Challenger Banks in The Era of Open Banking', Selasa (29/9).

Sebagai gambaran, tugas back office sendiri antara lain mengurus laporan-laporan penjualan atau pemasaran, keuangan, dan masalah administrasi. Saat ini, aktivitas tersebut sudah dilakukan oleh sistem.


Selain back office, Jahja menyebutkan sejumlah posisi kerja yang bisa dilakukan secara digital yakni akuntan di setiap kantor cabang.

"Waktu kami masih belum digital semua itu manual, yang mengatur rekening antar cabang saja bisa 200 orang. Sekarang ini tidak perlu, sekarang ini tidak ada yang melakukan itu semua sudah otomatis," imbuhnya.

Ia menuturkan untuk melakukan transformasi digital pada sebuah bank harus dimulai dari digitalisasi internal bank itu sendiri. Pada BCA sendiri, Jahja memiliki kurang lebih 1.000 karyawan yang menangani IT. Untuk efisien proses bisnis, ia membagi 1.000 karyawan tersebut dalam perusahaan mini (mini company) kurang lebih 43-44 orang.

"Kenapa kami pecah karena kalau dulu dengan sistem lama kami seperti waterfall (air terjun) menunggu approval (persetujuan) proses, sehingga satu program bisa menunggu setahun baru kelar. Sekarang ini terbilang minggu, bulan, subject to approval, jadi cepat sekali pembuatannya," paparnya.

Selanjutnya, dalam setiap mini company tersebut terdiri dari tim-tim proyek (scrum team) sebanyak 2-4 tim. Dalam tim tersebut terdiri dari pekerja dengan berbagai latar belakang profesi mulai dari bisnis, IT, desain produk, dan legal.

"Bank ini bedanya dengan fintech ada risiko yang harus diperhatikan sehingga ada legal yang comply dengan ketentuan hukum, kemudian bisnis juga harus mengerti, lalu teknologi, dan desainer," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)