BPS Catat Deflasi 0,05 Persen pada September 2020

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 11:29 WIB
BPS mencatat tingkat harga deflasi 0,05 persen pada September 2020. Penurunan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. BPS mencatat tingkat harga deflasi 0,05 persen pada September 2020. Penurunan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan harga atau deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2020.

Deflasi ini sama dengan Agustus 2020 sebesar minus 0,05 persen namun lebih rendah dari deflasi September 2019 sebesar minus 0,27 persen.

Sementara inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 0,89 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 1,42 persen pada bulan lalu.


"Jadi terjadi deflasi dalam tiga bulan berturut-turut pada tahun ini," ucap Kepala BPS Suhariyanto, Kamis (1/10).

Suhariyanto mengatakan deflasi tertinggi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau minus 0,37 persen dengan andil minus 0,09 persen. Deflasi terjadi karena penurunan harga ayam daging ras di sejumlah daerah di Indonesia.

"Ada penurunan harga daging ayam ras dan telor ayam ras sekitar 0,04 persen. Ada juga penurunan bawang merah dan beberapa sayuran seperti tomat dan cabai rawit," katanya.

Komoditas yang justru mengalami inflasi atau kenaikan harga adalah minyak goreng sekitar 0,02 persen dan bawang putih 0,01 persen. Selanjutnya, deflasi tinggi juga terjadi di kelompok transportasi sebesar minus 0,33 persen dan andil 0,04 persen.

"Ada penurunan tarif angkutan udara dengan andil 0,04 persen di 40 kota IHK, penurunan terbesar di Tanjung Pinang dan Pangkal Pinang," jelasnya.

Lalu, deflasi juga terjadi di kelompok pakaian dan alas kaki minus 0,01 persen dengan andil 0 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan deflasi minus 0,01 persen dan andil 0 persen.

Sisanya, kelompok lain mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kelompok pendidikan 0,62 persen dengan andil 0,03 persen.

"Pendidikan karena kenaikan uang kuliah atau akademi, perguruan tinggi dengan andil 0,03 persen. Kenaikan harga uang kuliah di 19 kota IHK," terangnya.

Inflasi juga terjadi di kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,07 persen dan andil 0,01 persen. Kemudian, kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,15 persen dengan andil 0,01 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,16 persen dengan andil 0 persen.

Lalu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0 persen dengan andil nol persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran 0,13 persen dan andil 0,01 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 0,25 persen dengan andil 0,02 persen.

"Karena kenaikan harga emas perhiasan," imbuhnya.

Berdasarkan komponennya, komponen bergejolak (volatile foods) deflasi 0,6 persen dan andil 0,1 persen. Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,01 persen dan andil 0 persen serta komponen bahan makanan dengan deflasi 0,55 persen dan andil 0,1 persen.

Lalu, komponen harga diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,19 persen dengan andil minus 0,03 persen. Kemudian, inflasi inti sebesar 0,13 persen dan andil 0,08 persen.

[Gambas:Video CNN]

Berdasarkan wilayah, deflasi terjadi di 56 kota dari 90 kota IHK. Sementara 34 kota lainnya mengalami inflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1 persen dan terendah di Pontianak dan Pekanbaru 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Timika sebesar minus 0,83 persen dan terendah di Bukittinggi, Jember, dan Singkawang minus 0,01 persen.

(uli/sfr)