Pemerintah Akan Libatkan Santri Kembangkan Produk Sawit

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 16:42 WIB
Pemerintah akan melibatkan santri dalam pengembangan produk sawit supaya tidak tertinggal dari Malaysia. Pemerintah akan melibatkan santri dalam pengembangan produk sawit di dalam negeri supaya tak kalah dari Malaysia. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah melibatkan peran pesantren beserta santrinya untuk mengembangkan potensi hilirisasi produk kelapa sawit di Indonesia melalui program Santripreneur Berbasis UMKM Sawit. Pasalnya, hilirisasi produk kelapa sawit Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga, Malaysia.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman mengatakan program tersebut akan dilakukan pada 90 pesantren yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Riau. Untuk setiap provinsi, BDPPKS akan bekerja sama dengan 30 pesantren.

Namun, tidak sembarang pesantren bisa mengikuti program Santripreneur Berbasis UMKM Sawit. Program ini mengharuskan pesantren memiliki pengembangan usaha kelapa sawit di tiga provinsi tersebut.


"Program ini diawali dengan identifikasi oleh BDPPKS kerja sama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia, Kementerian Agama, dinas yang membidangi koperasi Islam, dan organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Identifikasi yang dimaksud untuk menjaring pesantren yang memiliki pengembangan usaha sawit di tiga provinsi," ujarnya dalam acara peluncuran Program Santripreneur Berbasis UMKM Sawit, Kamis (1/10).

Selanjutnya, pesantren yang terpilih akan mengikuti sejumlah program, meliputi pengembangan dan pengelolaan produk, pembinaan dan pengembangan SDM, dan pengembangan pemasaran. Mereka juga mendapatkan fasilitas penguatan permodalan, manajemen usaha, dan dukungan penguasaan teknologi khususnya pemasaran.

Ia menuturkan pelatihan tersebut akan berlangsung hingga akhir 2020.

"Diharapkan pada akhir program ini peserta akan memiliki produk unggulan, mampu kelola bisnis dengan cara lebih sehat, organisasi UMKM yang lebih kuat, akses kepada sumber pembiayaan, dan motivasi pengembangan kewirausahaan petani di sekitarnya," imbuhnya.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menambahkan program tersebut diyakini bisa meningkatkan hilirisasi dan memperkuat pangsa pasar domestik dari produk kelapa sawit.

"Upaya penguatan pasar domestik bisa dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi ini penting untuk memperbesar dan mempercepat distribusi pemasaran produk kelapa sawit, dan pesantren sebagai aset umat sangat berpotensi untuk pengembangan usaha sawit," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Pasalnya, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di kancah global dan menguasai 55 persen pangsa pasar dunia. Namun, dampak pandemi covid-19 membuat kinerja sektor unggulan ini turun 11 persen pada semester I 2020.

Di sisi lain, berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Pengekspor Kelapa Sawit Indonesia (Gappki) konsumsi produk kelapa sawit domestik masih tumbuh 2,8 persen menjadi 8,66 juta ton pada semester I 2020. Oleh sebab itu, ia menilai perlu penguatan pasar domestik dari pangsa pasar produk kelapa sawit.

"Penurunan ekspor sawit memberikan dampak negatif pada petani dan pelaku usaha sawit. Diperlukan upaya penguatan pada pasar domestik minyak sawit agar kinerjanya membaik dan memberikan keseimbangan pada ekspor yang turun," katanya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap agar program ini bisa dikolaborasikan dengan sejumlah program serupa di kementerian lainnya sehingga bisa meningkatkan daya ungkit program ini. Misalnya, program KUR, kredit ultra mikro, dan koperasi berbasis pesantren.

"Kami harap program ini bisa menghasilkan dampak signifikan bagi santri yang ingin jadi entrepreneur," tuturnya.

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK