AS Blokir Impor Sawit Malaysia Terkait Dugaan Kerja Paksa

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 10:41 WIB
AS memblokir impor minyak kelapa sawit asal Malaysia karena diduga produksinya dilakukan dengan praktik kerja paksa. AS blokir impor sawit asal Malaysia karena terindikasi diproduksi dengan praktik kerja paksa. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk memblokir impor minyak kelapa sawit dan produk minyak sawit dari Malaysia mulai Rabu (30/9) kemarin. Pemblokiran dilakukan terhadap semua minyak sawit yang diproduksi oleh FGV Holdings Berhad, sebuah perusahaan pertanian yang berbasis di Malaysia.

Kantor Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS menyatakan keputusan pemblokiran dilakukan untuk menghentikan praktik kerja paksa yang dilakukan perusahaan tersebut. Asisten Komisaris Eksekutif CBP Brenda Smith mengatakan pihaknya sudah menemukan bukti nyata atas praktik kerja paksa yang dilakukan perusahaan tersebut.

Bukti dikumpulkan selama satu tahun, salah satunya didapat dari investigasi Associated Press.


Investigasi menemukan eksploitasi tenaga kerja kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia, termasuk pekerja anak, perbudakan dan pemerkosaan. 

Tak hanya berhenti di situ, praktik kerja paksa juga berbentuk jeratan utang, penyimpanan dokumen identitas, pemotongan gaji dan bahkan pelibatan pekerja anak dalam proses produksi minyak sawit FGV Holdings.

"Penggunaan kerja paksa dalam rantai pasokan tidak dapat diterima di Amerika Serikat. Ini adalah persyaratan komunitas pengimpor AS untuk memastikan bahwa rantai pasokan mereka bersih," kata Smith seperti dikutip dari CNN Business, Kamis (1/10).

Pemblokiran impor dengan alasan menghentikan praktik kerja paksa bukan kali ini saja dilakukan oleh AS.  Sejak UU Tarif Tahun 1930 berlaku, mereka telah mengeluarkan 64 perintah pemblokiran impor.

[Gambas:Video CNN]

Perintah terbaru dikeluarkan pada September. Saat itu pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan untuk memblokir impor asal lima perusahaan China.

Kebijakan tersebut ditempuh karena AS menuduh lima perusahaan tersebut telah menjalankan praktik kerja paksa dalam usaha mereka

Salah satu produk impor yang diblokir tersebut  diduga berasal dari kamp penjara massal di wilayah Xinjiang barat China..

"Ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan," kata Smith tentang tahun fiskal yang akan datang.

Minyak sawit adalah komoditas yang yang banyak digunakan di AS  untuk bahan produk makanan, kosmetik hingga biofuel. Berdasarkan data CBP, impor minyak sawit AS tembus US$ 147 miliar sejak Agustus 2018, menurut CBP.

Meski melakukan pemblokiran, CBP memastikan kebijakan itu  tidak akan berdampak signifikan pada total impor minyak sawit dan produk minyak sawit AS.

(agt/sfr)