Pembobolan Akun Menimpa Nasabah Aplikasi Trading di AS

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 18:14 WIB
Pembobolan akun menimpa nasabah aplikasi trading di AS bernama Robinhood. Pembobol menyusup melalui akun emal pribadi. Pembobolan menimpa akun nasabah aplikasi trading di AS bernama Robinhood. Ilustrasi. (Istockphoto/ South_agency).
Jakarta, CNN Indonesia --

Aplikasi perdagangan (trading) Robinhood menyatakan bahwa sejumlah akun pelanggan baru-baru ini menjadi sasaran penjahat dunia maya.

Robinhood melalui pernyataan yang dikutip dari CNN Business mengatakan peretas melakukan aksi pembobolan dengan menyusup ke akun email pribadi pengguna di luar aplikasi perdagangan. Setelah berhasil, mereka menggunakan email tersebut untuk mendapatkan akses ke akun Robinhood pelanggan

Meski demikian, Robinhood tidak merinci jumlah akun yang diretas. Namun diperkirakan hampir 2.000 akun pelanggan dibobol dalam kejadian itu.


Data berasal dari sumber yang memiliki pengetahuan tentang tinjauan internal.

Perusahaan menyatakan tengah bekerja dengan pelanggan yang terpengaruh untuk mengamankan akun mereka. Robinhood juga mendorong pelanggan untuk melindungi akun mereka menggunakan mekanisme seperti otentikasi dua faktor.

Mereka juga menyebut ketika Robinhood diberi tahu oleh pelanggan tentang potensi penipuan, perusahaan dengan segera membatasi akun, menyelidiki akses tidak sah, mengeluarkan pengguna di semua perangkat dan meminta pelanggan untuk mengubah kata sandi mereka.

Robinhood merupakan aplikasi populer di kalangan anak muda AS. Mereka menyediakan jasa perdagangan dan investasi dan memiliki total lebih dari 13 juta akun pelanggan.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya di AS, pembobolan akun juga terjadi di Indonesia. Pembobolan disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Dia menyebut bahwa kasus kebobolan saldo terbilang besar dialami salah satu penyelenggara dompet digital atau uang elektronik di Indonesia.

Namun, ia tidak menyebut siapa penyelenggara jasa sistematis pembayaran (PJSP) yang dimaksud. Yang jelas, Destry bilang, kasus tersebut telah ditangani oleh BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kemarin memang ada kejadian cukup besar sekali kebocoran di salah satu PJSP kita dan itu sudah menjadi perhatian, sudah masuk ke OJK ke BI. Ini juga sama ada yang membobol pakai mesin," ujarnya dalam kuliah tamu bertajuk 'Pasar dan Lembaga Keuangan' yang digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia, Jumat (16/10).

Destry menyampaikan bahwa pentingnya melihat track record e-wallet yang akan digunakan jika ingin menyimpan uang cukup besar. Pasalnya, masalah kehilangan uang di dompet digital bukan hal yang baru terjadi di Indonesia.

"Makanya, sebelum menggunakan harus cek dulu siapa penyelenggara e-wallet itu," terang dia.

(wel/agt)