Bulog Bidik Ekspor Sagu dari Optimalisasi Lahan

CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 06:00 WIB
Dirut Bulog Budi Waseso menilai Indonesia belum mengoptimalkan pemanfaatan sagu. Pasalnya, baru 5 persen lahan sagu yang dikelola. Dirut Bulog Budi Waseso menilai Indonesia belum mengoptimalkan pemanfaatan sagu. Pasalnya, baru 5 persen lahan sagu yang dikelola. Ilustrasi. (commons.wikimedia.org/Toksave).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebut RI memiliki potensi besar untuk melakukan ekspor sagu. Tak hanya mengekspor sagu mentah, ia membidik ekspor dalam bentuk produk olahan seperti tepung dan mi instan.

Ia melihat potensi yang ada di Indonesia belum dikelola secara maksimal. Ia mencatat dari total 5,5 juta hektare (Ha) lahan sagu yang ada, baru 5 persen yang dikelola.

"Kalau bisa dikelola 10 sampai 15 persen, maka sumber pangan kita selain beras bisa luar biasa. Bukan hanya untuk kepentingan dalam negeri, beberapa negara banyak butuh bahan baku sagu sehingga ini bisa ekspor," kata pria yang akrab disapa Buwas ini pada konferensi pers daring, Selasa (20/10).


Dalam usahanya mendorong konsumsi sagu untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, pihaknya mengolah sagu menjadi produk yang digemari masyarakat yaitu mie sagu. Pada tahap awal, Buwas menyebut distribusi mie sagu akan diprioritaskan ke 20 wilayah. Namun, ia tak merinci wilayah mana saja.

"Bulog sudah kerja sama dengan swasta, termasuk untuk ubi dan singkong. Ini program Bulog ke depan, ada 20 wilayah prioritas kami bikin pabirk-pabrik pengolahan sagu termasuk singkong," imbuhnya.

Di kesempatan sama, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud merinci, dari total 6,5 juta Ha lahan sagu di dunia, 5,5 juta Ha di antaranya berada di RI. Sedangkan, lebih dari 94,55 persen atau 5,2 juta Ha berada di wilayah Papua.

Sayangnya, konsumsi sagu nasional terhitung masih sangat rendah yaitu 0,4-0,5 kg/kapita/tahun, jauh tertinggal dari konsumsi beras yakni 95 kg/kapita/tahun.

[Gambas:Video CNN]

Dia juga menyebut bahwa pengembangan sagu mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk petani daerah, khususnya di Indonesia Timur. Musdhalifah bilang optimalisasi sagu mampu menyerap 286 ribu KK petani.

Sepakat dengan Buwas, dia juga melihat potensi ekspor sagu yang baik. Menurut data yang dipaparkannya, nilai ekspor sagu pada 2019 adalah sebesar Rp108,89 miliar dengan total volume 26.625 ton dengan 5 negara tujuan utama ekspor yaitu India, Malaysia, Jepang, Thailand, dan Vietnam.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa produk sagu Indonesia diminati oleh pasar global, sehingga perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk, serta meningkatkan kontribusi ekspor sagu terhadap devisa negara," tutupnya.

(wel/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK