Stafsus Erick: BUMN Tak Bisa Dimerger akan Dihilangkan

CNN Indonesia | Kamis, 22/10/2020 17:45 WIB
Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga menilai BUMN yang tidak bisa disatukan dengan yang lain sebagai perusahaan yang tidak bernilai bagi negara. Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga menilai BUMN yang tidak bisa disatukan dengan yang lain sebagai perusahaan yang tidak bernilai bagi negara. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Staf Khusus (Stafsus) III Menteri BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan perusahaan pelat merah yang tidak bisa dimerger atau disatukan dengan yang lain akan dihilangkan. Pasalnya, perusahaan tersebut dianggap tak bernilai bagi negara, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

Arya mengungkapkan pemerintah tengah memetakan rencana holding dan subholding ke depan. Pemetaan holding dan subholding dilakukan dengan strategi menentukan BUMN mana yang akan memegang peran sebagai pembuat nilai tambah kepada negara, baik dalam bentuk pajak dan dividen. Lalu, pemetaan juga melihat perusahaan pelat merah mana yang punya nilai strategis untuk peningkatan ekonomi dan layanan publik.

"Dari sini kami lihat, kalau tidak bisa dimergerkan atau disatukan dengan yang lain, maka dia akan dihilangkan saja, karena tidak punya nilai apapun, nilai ekonomi tidak ada, nilai sosial juga tidak ada," kata Arya dalam diskusi virtual bertajuk Subholding Pertamina, Melanggar Hukum?, Kamis (22/10).


Menurut Arya, skema holding dan subholding bertujuan untuk membuat struktur organisasi lebih ramping, mempercepat eksekusi mandat peningkatan kinerja melalui merger dan likuidasi, serta pembentukan strategic delivery unit.

"Ini semua untuk optimalisasi jabatan yang service oriented dengan membuat klaster," ujar Arya.

Hingga kini, Kementerian BUMN sudah membuat pemetaan BUMN dengan nilai ekonomi tinggi, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), MIND ID, dan lainnya.

Sementara PT Pertamina (Persero), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan lainnya, yang merupakan BUMN dengan pelayanan publik tinggi.

Sedangkan PT Peruri Persero), Perum Damri, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Hutama Karya (Persero) Tbk, PT PLN (Persero), dan lainnya merupakan BUMN yang akan semakin didorong peran pelayanan publiknya.

"Dari pengelompokan ini, akan dibentuk holding dan subholdingnya. Holdingnya ada minerba, keuangan, farmasi, rumah sakit, aviasi, pelabuhan, pangan, dan lainnya. Subholdingnya ke tambang dan ultra mikro," jelasnya.

Sayangnya, ia belum mengelaborasi kapan target holding dan subholding bisa rampung sepenuhnya. Kendati begitu, Arya mengatakan holding dan subholding akan memberikan banyak manfaat, diantaranya perusahaan bisa berkompetisi secara efektif, pendanaan fokus ke risiko bisnis bukan konglomerasi, dan bisa lebih mudah mendapatkan investor jangka panjang.

Sebagai informasi, Menteri BUMN Erick Thohir dalam beberapa kesempatan mengutarakan niat memangkas jumlah perusahaan pelat merah agar lebih efisien. Melalui proses restrukturisasi, jumlah BUMN yang semula 142 perusahaan berkurang menjadi tinggal hanya 107 perusahaan.

[Gambas:Video CNN]

"Restrukturisasi ini kami melakukan bersama Menteri Keuangan (Sri Mulyani). Dari 142 BUMN sekarang kami bisa mengkategorikan BUMN jumlahnya 107 perusahaan," ujar Erick beberapa waktu lalu.

Ia menargetkan nantinya BUMN hanya tinggal tersisa 70 atau 80 perusahaan. Selain jumlah BUMN, Erick juga telah mengurangi klaster perusahaan pelat merah dari 27 menjadi hanya 12 klaster.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK