Kemenhub Yakin Subsidi Tiket Tak Picu Penularan Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2020 16:41 WIB
Kemenhub menyatakan operator penerbangan telah menerapkan protokol pencegahan penularan covid-19 dengan ketat. Kemenhub menyatakan operator penerbangan telah menerapkan protokol pencegahan penularan covid-19 dengan ketat. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meyakini pemberian subsidi tiket pesawat tidak akan memicu penyebaran pandemi covid-19 di sektor penerbangan.

Subsidi sendiri diberikan dalam bentuk menggratiskan biaya Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau Passenger Service Charge (PSC).

Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Maria Kristi mengatakan operator sektor penerbangan telah menerapkan protokol pencegahan penularan covid-19 secara ketat. Dengan demikian, ia meyakini meski terjadi kenaikan penumpang usai pemberian subsidi itu, penularan virus corona tidak akan meningkat.


"Jadi, kami kalau di pesawat sudah ada protokol kesehatan, pembatasan 70 persen dari kapasitas, kemudian HEPA. Tidak hanya dalam pesawat, antrean juga sudah diatur, jadi insyaallah itu tidak akan ada orang yang terpapar di pesawat," ujarnya dalam konferensi pers 'Upaya Kemenhub Mengantisipasi Libur Panjang Akhir Oktober 2020', Jumat (23/10).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto mengatakan pemberian subsidi tersebut diharapkan mampu membantu pemulihan sektor penerbangan. Sebab, jumlah penumpang terus turun sebesar 10,2 persen pada September 2020 usai penerapan PSBB di DKI Jakarta.

"Oleh karena itu, pemerintah hadir memberikan stimulus dan harapannya transportasi udara sebagai moda konektivitas ini dapat bisa meningkat lebih cepat lagi," imbuhnya.

Insentif tersebut diberikan kepada calon penumpang yang akan melakukan perjalanan domestik mulai 23 Oktober hingga 31 Desember mendatang. Kebijakan ini berlaku pada 13 bandar udara (bandara).

Apabila animo penumpang tinggi, Novie berharap keringanan itu bisa dilanjutkan hingga pertengahan tahun depan.

"Proyeksi kami ke depan, kami masih berharap, kami bisa programkan kembali dari Januari-Juni 2021, sambil nanti kami lihat perkembangannya seperti apa," katanya.

Kenaikan Penumpang 20 Persen

Khusus untuk libur panjang periode 28 Oktober 2020-1 November 2020, pihaknya memprediksi terjadi kenaikan penumpang sebesar 20 persen. Prediksi tersebut juga mempertimbangkan pergerakan pesawat pada Oktober 2020.

Puncak keberangkatan penumpang diperkirakan terjadi pada Rabu, 28 Oktober 2020 dengan jumlah penumpang sebanyak 110 ribu orang. Sedangkan, pucak kedatangan atau arus balik terjadi pada Minggu, 1 November 2020 dengan jumlah penumpang 112 ribu orang.

[Gambas:Video CNN]

Dengan tambahan tersebut, ia menyatakan pihaknya akan tetap memberlakukan protokol pencegahan covid-19 dengan ketat.

"Kami tetap fokus dan konsisten terkait penerapan protokol kesehatan baik oleh penumpang maupun penyelenggara angkutan udara, penyelenggara bandara, dan penyelenggara navigasi," ucapnya.

(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK