Harga Minyak Dunia Anjlok Gara-gara Gelombang 2 Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 08:15 WIB
Harga minyak mentah global merosot hingga 3 persen pada akhir perdagangan Senin (26/10), waktu Amerika Serikat (AS). Harga minyak mentah global merosot hingga 3 persen pada akhir perdagangan Senin (26/10), waktu Amerika Serikat (AS). Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah global anjlok hingga 3 persen pada akhir perdagangan Senin (26/10), waktu Amerika Serikat (AS). Merosotnya harganya minyak dipicu gelombang kedua covid-19 di AS dan Eropa.

Mengutip Antara, Selasa (27/10), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun US$1,31 atau 3,1 persen menjadi US$40,46 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) berkurang US$1,29 atau 3,2 persen menjadi US$38,56 per barel. Kedua kontrak tersebut turun hampir 2,5 persen dari minggu lalu.

AS melaporkan jumlah kasus baru virus corona mencapai rekor tertinggi pekan lalu. Serupa, di Prancis kasus baru mencapai rekor lebih dari 50 ribu per hari pada Minggu (25/10).


Bahkan, Italia dan Spanyol kembali memberlakukan pembatasan untuk mencegah penularan covid-19.

"Ini adalah Senin yang gelap di pasar minyak. Kami telah lama memperingatkan akan gelombang kedua covid-19, sehingga langkah-langkah pembatasan ketat dapat diberlakukan kembali, dan itu sekarang terjadi," kata kepala pasar minyak di Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Selain itu, harga minyak mentah juga kena imbas tambahan produksi minyak mentah Libya. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran kelebihan pasokan di pasar.

Kemarin, National Oil Corporation (NOC) Libya mengakhiri keadaan kahar (force majeure) pada fasilitas yang sebelumnya ditutup oleh blokade ekspor minyak selama 8 bulan oleh pasukan timur.

NOC mengatakan produksi Libya akan mencapai 1 juta barel per hari (bph) dalam beberapa minggu mendatang. Peningkatan ini lebih cepat dari yang diperkirakan banyak analis.

Imbasnya, hal itu mempersulit upaya Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, atau OPEC+ untuk membatasi pasokan guna mengatasi permintaan yang lesu. Sekretaris Jenderal OPEC memperkirakan pemulihan pasar minyak mungkin memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan karena virus corona meningkat di seluruh dunia.

OPEC+, kelompok produsen dan sekutunya termasuk Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari pada Januari 2021 setelah rekor pemotongan produksi awal tahun ini.

"OPEC+ tidak boleh ceroboh dan harus mengatasi masalah minyak tambahan yang muncul di pasar. Jika tidak, harga minyak yang relatif stabil akan terus menurun," kata pialang minyak PVM Tamas Varga.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK