Bursa Saham Lompat 'Rayakan' Kemenangan Presiden Terpilih AS

CNN Indonesia | Senin, 09/11/2020 08:59 WIB
Bursa saham AS merespons positif kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS. Bursa saham berjangka AS menguat pada perdagangan akhir pekan. Bursa saham AS merespons positif kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS. Bursa saham berjangka AS menguat pada perdagangan akhir pekan. Ilustrasi wall street. (AP/Colin Ziemer).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bursa saham merespons positif kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS). Terlihat, bursa saham berjangka AS menguat pada perdagangan akhir pekan.

Mengutip CNN.com, Senin (9/11), indeks Dow (INDU) berjangka naik 287 poin atau 1 persen. Lalu, indeks S&P 500 (SPX) berjangka juga menguat 1 persen dan Nasdaq (COMP) berjangka menguat 1,3 persen.

Padahal, sebagian saham bergerak stagnan pada perdagangan Jumat (6/11) lalu. Indeks S&P 500 dan Nasdaq terpantau tidak bergerak, sedangkan indeks Dow merosot 67 poin atau 0,2 persen.


Wall Street sebelumnya telah bertaruh terhadap kemenangan Biden. Namun, Partai Republik, partai pengusung calon petahana Donald Trump, mengambialih senat pekan lalu.

"Apa yang terjadi dalam pertarungan senat dapat menentukan naik dan turun (saham berjangka) berikutnya," ujar Kepala Analis Pasar di CMC Markets Michael Hewson.

Untuk selanjutnya, pelaku pasar akan memantau kebijakan apa yang akan diambil Biden. Pada Sabtu (7/11) lalu, Biden mengatakan pihaknya akan membentuk satuan tugas (satgas) penanganan virus corona yang bertugas mengurangi penularan wabah itu di AS.

Rencananya, Biden akan mengumumkan nama-nama mereka pada hari ini. Dua sumber yang memiliki pengetahuan itu mengatakan langsung kepada CNN.com.

"Yang kami butuhkan di AS saat ini adalah seseorang yang benar-benar dapat mengendalikan wabah virus corona. Investor yakin bahwa Biden memberi mereka kepastian ini," tutur Analis Pasar di Ava Trade Naeem Aslam.

Kendati begitu, pasar masih khawatir dengan sikap Trump dalam menanggapi kekalahan pilpres beberapa waktu ke depan. Sebab, sikap Trump semakin tak menentu selama pilpres berlangsung.

"Satu variabel yang tidak dapat dipertanggungjawabkan adalah Trump menjadi semakin tidak menentu dan tidak stabil selama sepuluh minggu ke depan," kata Brad Karp selaku Ketua Paul, Weiss, Rifkind, Wharton & Garisson LLP.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK