Cegah Kasus Maybank Terulang, Pengamat Minta Bank Benahi SDM

CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2020 14:25 WIB
Pengamat meminta kepada bank membenahi pengelolaan SDM yang berkaitan dengan operasional dan berhubungan dengan dana nasabah demi mencegah pembobolan. Pengamat minta bank benahi SDM mereka supaya kasus pembobolan dana nasabah tak terulang. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat keuangan menilai bank perlu mereformasi atau membenahi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang mereka gunakan dalam kegiatan operasional, khususnya yang berhubungan langsung dengan dana nasabah. Hal ini perlu dilakukan terkait kasus dana nasabah raib yang terjadi di beberapa perbankan nasional.

Salah satu kasus teranyar menimpa nasabah Maybank bernama Winda Lunardi yang mengaku kehilangan dana yang disimpannya di rekening bank senilai Rp20 miliar. Dana ternyata dibobol oleh Kepala Maybank Cabang Cipulir untuk diputar di instrumen investasi lain.

Sebelum Winda, juga ada kasus serupa yang juga melibatkan orang dalam. Misalnya yang sempat heboh, kasus pembobolan yang dilakukan Maria Pauline Lumowa hingga membuatnya berhasil mendapat persetujuan Letter of Credit alias L/C senilai Rp1,7 triliun melalui pengajuan bisnis palsu yang diloloskan oleh karyawan BNI.


Berkaca pada kasus ini, Ekonom Perbanas Institute Piter Abdullah Redjalam menilai sudah waktunya bank melakukan reformasi pengelolaan SDM yang mereka gunakan untuk operasional bisnis. Sebab, kasus-kasus seperti ini tidak hanya merugikan nasabah, namun juga reputasi bank itu sendiri.

"Bank harus lebih meningkatkan pengelolaan SDM, meski sebenarnya bank sudah sangat ketat sistemnya. Tapi ibarat rumah, walau sudah dipasang tembok besi pun, kalau ada orang dalam yang bukakan pintu, ya itu bisa masuk juga," ungkap Piter kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

Menurutnya, kebijakan ini perlu dilakukan karena mayoritas kasus dana nasabah raib terjadi lantaran ada peran oknum internal. Karena itu, reformasi perlu dilakukan dengan lebih ketat dalam proses penjaringan karyawan.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, reformasi juga bisa dilakukan dengan memberikan tambahan insentif kepada pegawai bank yang punya peran besar dalam penentuan keputusan. Tujuannya agar mereka tidak tergoda melakukan penyelewengan karena gaji dan tunjangan yang ada sudah cukup.

"Meski sebenarnya insentif ke pegawai bank itu sudah cukup besar, fasilitasnya juga begitu, pendidikannya juga, tapi mungkin perlu dilihat," imbuhnya.

Lebih lanjut, reformasi juga perlu dilakukan dari sisi prosedur dan sistem bank. Itu diperlukan demi meminimalisir celah pembobolan dana nasabah.

"Sehingga kalau ada pelanggaran, mitigasi dan penanganannya sudah jelas," tuturnya.

Selain pada bank, ia mengatakan nasabah juga punya peran mencegah terjadinya pembobolan. Piter berharap nasabah semakin cerdas dalam menentukan sikap dan kepercayaan kepada bank dan pegawainya.

"Jangan sampai nasabah terlalu percaya dengan pihak yang ada di bank, nasabah harus mengerti juga prosedur-prosedur bank. Jangan beri buku tabungan ke bank, PIN ke bank, dan lainnya," katanya.

Kendati begitu, Piter melihat maraknya kasus dana nasabah raib di bank sejatinya belum memberikan dampak negatif pada simpanan di perbankan. Hal ini tercermin dari tetap tingginya jumlah simpanan nasabah di bank.

Pertumbuhannya bahkan mencapai 12 persen secara tahunan per September 2020. "Tapi memang satu kasus tidak men-generalisir bahwa bank tidak bisa dipercaya dan langsung pengaruhi tingkat kepercayaan nasabah," ucapnya.

Senada, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan perlu ada perbaikan di sistem internal bank dengan maraknya kasus dana hilang. Kebijakan ini bukan sekadar tanggung jawab bank bersangkutan sendiri, tapi juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Sebenarnya sudah ada aturan mitigasi risiko fraud dari OJK, tapi pengawasan perlu diperkuat lagi, jangan sampai fraud. Bank perlu mitigasi dari sisi manajemen, pengendalian, pengawasan, preventif, hingga action plan kalau sudah terjadi," jelas Josua.

Tak ketinggalan, tentunya perlu membangun kesadaran (awareness) pegawai agar lebih loyal kepada perusahaan. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak memberikan pelatihan dan lainnya.

"Bagi bank yang awareness-nya tinggi dan prudent, ada prinsip kehati-hatian, mitigasi dari sisi kredit, pasar, dan operasional, diharapkan bisa menghindari kasus-kasus seperti ini," pungkasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK