Harga Minyak Kembali Turun usai Produksi Libya Menanjak

CNN Indonesia | Senin, 16/11/2020 07:49 WIB
Harga minyak dunia merosot sekitar 2 persen pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu (14/11). Sepanjang pekan, harga minyak masih menguat lebih dari 8 persen. Harga minyak dunia merosot sekitar 2 persen pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu (14/11). Sepanjang pekan, harga minyak masih menguat lebih dari 8 persen. Ilustrasi. (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak jatuh sekitar dua persen pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu (14/11). Tekanan disebabkan oleh kenaikan produksi minyak Libya dan kekhawatiran meningkatnya kasus covid-19 yang berdampak pada melambatnya pemulihan ekonomi global dan permintaan bahan bakar.

Mengutip Antara, Senin (16/11) harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari terpangkas 75 sen atau 1,7 persen, menjadi 42,78 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 99 sen atau 2,4 persen dan berakhir di level 40,13 dolar AS per barel.

Kendati demikian, ekspektasi terhadap vaksin diprediksi membuat harga minyak mentah berjangka tetap berada di tren penguatan dua minggu berturut-turut. Pekan lalu, keduanya mencatat kenaikan lebih dari delapan persen.


Sementara itu, produksi minyak Libya dilaporkan meningkat menjadi 1,2 juta barel per hari (bph) atau naik dari 1 juta bph pada 7 November seperti dilaporkan National Oil Corp.

Selain itu, tanda-tanda peningkatan produksi di AS menambah sentimen buruk terhadap harga minyak. Menurut data Baker Hughes, jumlah rig minyak AS naik 10 menjadi 236 rig minggu ini atau tertinggi sejak Mei 2020.

Hal lain yang juga menekan harga adalah data pemerintah AS yang menunjukkan suplai minyak mentah naik 4,3 juta barel pada pekan lalu. Analis memperkirakan penarikan 913 ribu barel.

"Intinya, beberapa faktor seperti optimisme terhadap vaksin Pfizer telah memudar dan angka-angka EIA (Badan Informasi Energi AS) yang mengecewakan telah menciptakan sedikit koreksi turun," kata Kepala Penelitian Komoditas BNP Paribas Harry Tchilinguirian.

Meski demikian, lanjut Harry, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau yang biasa dikenal OPEC+ bersiap untuk menyesuaikan produksinya. Mereka masih menunggu hasil uji coba vaksin lain yang mungkin lebih mudah didistribusikan karena tidak memerlukan penyimpanan dingin seperti itu.

Di sisi lain, penambahan jumlah kasus covid-19 di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eroparekor yang diikuti pembatasan sosial juga akan menyebabkan permintaan bahan bakar pulih lebih lambat dari yang diperkirakan banyak orang.

Memang, kontrak WTI dan Brent melonjak minggu lalu setelah data menunjukkan vaksin Pfizer Inc dan BioNTech dinilai 90 persen efektif.

Kendati demikian, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan permintaan minyak global tidak mungkin mendapatkan dorongan yang signifikan dari vaksin hingga 2021.

[Gambas:Video CNN]

"Tidak mengherankan jika pasar memangkas kenaikan harga hari ini karena kenyataan pasokan dan permintaan minyak mentah suram, sementara kasus baru harian covid-19 di AS membuat rekor baru untuk hari ketiga berturut-turut," kata Kepala Pasar Minyak Rystad Bjornar Tonhaugen.

Para analis mengatakan pembatasan yang lebih ketat untuk menahan laju penularan virus corona mungkin membuat OPEC+ ragu untuk melonggarkan pembatasan produksi seperti yang direncanakan pada Januari.

Mereka rencananya akan menggelar pertemuan Komite Pemantauan Kementerian Bersama pekan ini, yang akan memberikan beberapa indikasi tentang apa yang mungkin diputuskan oleh produsen pada pertemuan menteri berikutnya pada 1 Desember.

Pekan lalu, Menteri Energi Aljazair mengatakan bahwa OPEC+ dapat memperpanjang pengurangan produksi minyak grup saat ini hingga 2021 atau memperdalamnya lebih jauh jika diperlukan.

(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK