Harga Minyak Dunia Masih Dibayangi Lonjakan Kasus Covid-19

CNN Indonesia | Rabu, 18/11/2020 08:15 WIB
Harga minyak mentah Brent pengiriman Januari turun ke US$43,75 per barel dan WTI pengiriman Desember naik ke US$41,43 per barel pada Selasa (17/11), waktu AS. Harga minyak mentah Brent pengiriman Januari turun ke US$43,75 per barel dan WTI pengiriman Desember naik ke US$41,43 per barel pada Selasa (17/11), waktu AS. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa (17/11), waktu Amerika Serikat (AS), jelang rilis data persediaan minyak mentah mingguan AS yang dibayangi kekhawatiran terhadap lonjakan kasus covid-19 di beberapa negara.

Mengutip Antara, Rabu (18/11), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun tipis tujuh sen atau 0,2 persen menjadi menetap pada US$43,75 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik sembilan sen atau 0,2 persen, menjadi ditutup di US$41,43 per barel.

Setelah penutupan, minyak mentah AS turun tipis menjadi 41,19 dolar AS per barel ketika kelompok industri American Petroleum Institute (API) mengatakan persediaan naik lebih 4,174 juta barel minggu lalu.


Para analis memperkirakan persediaan minyak mentah berpotensi naik 1,7 juta barel sepanjang pekan yang berakhir 13 November lalu, setelah naik 4,3 juta barel pada pekan sebelumnya. Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan akan merilis data stok minyak mentah mingguan negara itu pada Rabu waktu setempat.

Harga minyak mentah telah mengurangi kerugian menjelang penutupan setelah Pentagon mengatakan Presiden AS Donald Trump akan secara tajam mengurangi pasukan AS di Afghanistan dari 4.500 menjadi 2.500.

"Harga minyak mentah naik (dari negatif menjadi sedikit berubah) setelah pemerintahan Trump mengumumkan penarikan pasukan lebih lanjut di Afghanistan dan Irak," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Ia juga mencatat ketidakstabilan di wilayah tersebut menjadi kekhawatiran yang berkembang bagi beberapa penasihat militer dan pasar minyak.

Pada Senin (16/11), Brent ditutup pada level tertinggi 10 minggu setelah Moderna Inc. mengumumkan vaksin virus coronanya efektif 94,5 persen menyusul berita serupa dari Pfizer Inc minggu lalu.

Meski demikian, prospek ekonomi jangka pendek tetap suram dengan beberapa negara Eropa memperketat pembatasan ketika kasus virus corona meningkat.

Di sisi lain, untuk mengatasi permintaan energi yang lebih lemah dalam pandemi yang muncul kembali, Arab Saudi meminta sesama anggota OPEC+ untuk bersikap fleksibel saat membangun alasan untuk kebijakan produksi yang lebih ketat pada 2021.

OPEC+, yang mengelompokkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan lainnya, menurunkan prospek pertumbuhan permintaan minyak untuk 2021.

Sementara opsi yang mendapatkan dukungan di antara negara-negara OPEC+ adalah mempertahankan pemotongan yang ada sebesar 7,7 juta barel per hari (bph) selama tiga hingga enam bulan ke depan, daripada mengurangi pengurangan menjadi 5,7 juta barel per hari pada Januari.

OPEC+ mengadakan pertemuan komite menteri pada Selasa (17/11) yang tidak membuat rekomendasi resmi. Kelompok tersebut akan mengadakan pertemuan penuh pada 30 November-1Desember.

"Kurangnya rekomendasi memaksa pasar untuk menunggu episode berikutnya dari saga ini sebelum merasa nyaman kembali," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy.

Ia juga mencatat pasokan minyak akan berada dalam kondisi over supply selama beberapa bulan jika OPEC+ meningkatkan produksi mulai Januari.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK