Ernst & Young Sebut IPO Naik 14 Persen pada Kuartal III 2020

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 15:32 WIB
Ernst & Young mengungkap aktivitas IPO global naik 14 persen menjadi 872 pada kuartal III 2020. Dari aksi itu, dana segar yang diraih melonjak 43 persen. Ernst & Young sebut IPO global naik 14 persen selama kuartal III 2020. Ilustrasi. (AP/Colin Ziemer).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ernst & Young (EY) memaparkan aktivitas penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) secara global naik 14 persen menjadi 872 IPO pada kuartal III 2020. Dari aksi korporasi itu, dana segar yang diraih melonjak 43 persen menjadi US$165,3 miliar.

Hal ini tertuang dalam laporan kuartalan EY bertajuk EY Global IPO Trends: Q3 2020.

EY Global IPO Leader Paul Go mengatakan aktivitas IPO di Amerika Serikat (AS) naik 18 persen menjadi 188 IPO. Dana yang dihasilkan dari aksi korporasi tersebut naik 33 persen menjadi US$62,4 miliar.


Sementara, total IPO di Asia Pasifik meningkat 29 persen menjadi 554 IPO. Kegiatan itu menghasilkan dana segar sebesar US$58,3 miliar.

Go menjelaskan ada tiga sektor yang menduduki peringkat teratas dalam melakukan IPO. Sektor itu, antara lain teknologi, industri, dan pelayanan kesehatan.

Rinciannya, terdapat 210 IPO dengan nilai US$53,9 miliar di sektor teknologi, sektor industri 168 IPO senilai US$23,3 miliar, dan sektor kesehatan sebanyak 159 IPO dengan nilai US$33,3 miliar.

"Meskipun sentimen pasar bisa rapuh, kuartal terakhir terus dibuat ramai untuk mengakhiri pergolakan tahun 2020 yang telah melihat beberapa kinerja IPO yang luar biasa. Pemilihan presiden AS, serta hubungan China-AS pasca pemilu, mungkin menjadi pertimbangan utama dalam aktivitas IPO lintas batas di masa mendatang di antara bursa saham terkemuka dunia," ungkap Go dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (20/11).

Selanjutnya, Go menyatakan peningkatan aktivitas IPO di Asia Pasifik terjadi karena karena ada ada kebijakan stimulus pemerintah di masa pandemi covid-19. Salah satunya subsidi pekerjaan kepada maskapai di wilayah tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Di China, sambung Go, aktivitas IPO kuartal III 2020 menembus rekor tertinggi. Jumlah transaksi dari aksi korporasi itu melonjak hingga 152 persen.

"Ketegangan perdagangan AS dan China meningkat menjelang pemilihan presiden AS, beberapa perusahaan China yang terdaftar di bursa AS memilih untuk melakukan pencatatan sekunder di bursa China, memanfaatkan pasar ekuitas China," kata Go.

Di sisi lain, jumlah IPO khusus di Asean tercatat turun sebesar 13 persen menjadi hanya 77 IPO sepanjang Januari hingga September 2020. Namun, khusus periode Juli-September 2020 tercatat ada 33 IPO dengan nilai transaksi sebesar US$1,1 miliar.

"Naik 175 persen dalam volume dan 491 persen dari kuartal II 2020," imbuh Go.

Go menyatakan pemulihan ekonomi di Asean terasa lebih lama akibat pandemi covid-19. Hal ini khususnya terjadi di Indonesia dan Thailand.

EY mencatat ada satu perusahaan yang akan melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun dengan nilai US$500 juta. Sementara, ada lebih dari satu perusahaan yang akan melantai di bursa Thailand.

EY Indonesia M&A Practice Leader Sahala Situmorang mengatakan BEI mencatatkan terdapat 46 perusahaan yang melakukan IPO sejak awal tahun hingga kuartal III 2020. Jumlah itu naik 21,1 persen dari posisi kuartal III 2019 lalu.

"Kami juga menyaksikan peningkatan jumlah UMKM yang memasuki pasar modal untuk kebutuhan pendanaan mereka. Memang, 54,4 persen dari perusahaan yang go public mengumpulkan Rp50-250 miliar, sementara 41,3 persen dari perusahaan yang baru terdaftar mengumpulkan kurang dari Rp50 miliar," papar Sahala.

Ia menyatakan masih ada beberapa sentimen yang akan mempengaruhi investor dalam melakukan IPO. Beberapa sentimen itu, antara lain pertumbuhan ekonomi Indonesia dan global, hasil pemilihan presiden AS, dan Brexit.

"Selama peluang tetap terbuka, diharapkan transaksi akan terus dilakukan," jelasnya.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK