Rupiah Lunglai ke Rp14.165 di Akhir Pekan

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 16:15 WIB
Nilai tukar rupiah  melemah 0,07 persen ke level Rp14.165 per dolar AS pada perdagangan Jumat (20/11) sore. Rupiah melemah 0,07 persen ke level Rp14.165 per dolar AS pada akhir pekan ini. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.165 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Jumat (20/11) sore. Mata uang Garuda  melemah 0,07  persen dari Rp14.155 per dolar AS pada Kamis (19/11).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.228 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.167 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan oleh dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Singapura bertambah 0,08 persen, won Korea Selatan naik 0,09 persen, dan peso Filipina menguat 0,18 persen.


Selanjutnya, rupee India bertambah 0,21 persen, yuan China naik 0,20 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,14 persen, dan baht Thailand naik 0,17 persen.

Mata uang Garuda hanya melemah bersama yen Jepang sebesar 0,11 persen dan dolar Taiwan 0,05 persen terhadap dolar AS.

Serupa, mayoritas mata uang di negara maju juga kompak perkasa terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, dolar Australia naik 0,03 persen, dolar Kanada bertambah 0,08 persen, dan franc Swiss naik 0,19 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan ada dua faktor yang menjadi sentimen negatif bagi mata uang Garuda. Pertama, keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan menekan rupiah. 

[Gambas:Video CNN]

Diketahui, bank sentral menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020. Ibrahim mengatakan pemangkasan suku bunga acuan itu luar dugaan pasar, lantaran para analis memprediksi BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan.

"Ini merupakan kejadian yang kedua kali dan pada akhirnya pasar merespons negatif terhadap kebijakan tersebut," katanya dalam riset tertulis.

Kedua, pasar juga kecewa terhadap molornya program vaksinasi. Diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan rencana vaksin covid-19 yang ditargetkan Desember molor ke Januari 2021.

Kemunduran ini disebabkan Emergency Use of Authorization (EUA) atau izin yang dikeluarkan untuk kepentingan mendesak tak mungkin diberikan akhir tahun ini.

"Pasar kecewa tentang penundaan vaksinasi tersebut," katanya.



(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK