ANALISIS

Perlu Turunkan Tim Independen Investigasi Listrik Sering Mati

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 06:56 WIB
Pengamat energi meminta PLN dan Kementerian ESDM segera menginvestigasi kasus mati lampu yang belakangan ini sering terjadi agar tak terus terjadi. PLN dan pemerintah perlu melakukan investigasi kenapa listrik sering mati belakangan ini. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemadaman listrik lagi-lagi terjadi. Kali ini, listrik mati di sebagian wilayah Jakarta Selatan pada Selasa (1/12) pagi.

Pemadaman listrik khususnya terjadi di Mampang, Kuningan, Pasar Minggu, Senayan, Duren Tiga, Kemang, dan Antasari, Sudirman, dan SCBD.

Senior Manager General Affairs PT PLN (Persero) Disjaya Emir Muhaimin mengatakan hal ini terjadi lantaran ada gangguan jaringan 150 kilo volt (KV). Pemadaman terjadi sejak pukul 09.00 WIB dan baru kembali normal seluruhnya pada pukul 14.00 WIB.


PLN sejauh ini masih melakukan evaluasi penyebab pemadaman tersebut. Dengan kata lain, manajemen belum tahu pasti apa yang membuat listrik padam di kawasan Jakarta Selatan.

"Masih dalam proses (evaluasi). Saat ini belum ada informasi tambahan," ucap Emir kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/12).

Kendati begitu, ia menegaskan pemadaman bukan terjadi karena perusahaan sedang melakukan efisiensi. Emir menyebut ada gangguan yang membuat listrik padam di kawasan Jakarta Selatan.

"Ini murni gangguan," imbuh Emir.

Jika menengok ke belakang, ini bukan pertama kalinya listrik padam dengan skala cukup besar. Sebelumnya, listrik padam di sejumlah wilayah Jakarta hingga sebagian Banten, Jawa Barat pada 4 Agustus 2019 hingga 5 Agustus 2019.

Lalu, pemadaman listrik dalam skala besar juga terjadi pada 1 November 2020 lalu. Saat itu, listrik mati di Jakarta, Bogor, Jawa Barat, Pamulang, Tangerang Selatan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai pemadaman listrik yang sudah terjadi beberapa kali ini seharusnya bukan hanya diinvestigasi atau dievaluasi oleh PLN, tapi juga Kementerian ESDM sebagai regulator.

PLN menginvestigasi agar kejadian serupa tak terulang. Sementara, Kementerian ESDM menginvestigasi sebagai catatan regulator dan hasilnya diberitahu kepada publik.

"Publik ini kan harus tahu secara luas. Jadi investigasi independen dilakukan PLN, tapi Kementerian ESDM juga," terang Fabby.

Ia menduga pemadaman yang sering terjadi karena masalah teknis. Misalnya, ada transmisi yang rusak atau pembangkit daya yang turun.

"Semua bisa terjadi. Listrik padam itu karena serangkaian kejadian. Ini perlu diselidiki," ucap Fabby.

Sementara, ia berpendapat pemadaman listrik bukan karena pasokan. Sebab, pasokan listrik PLN surplus.

Artinya, jumlah permintaan pasar masih di bawah total pasokan yang dimiliki PLN. Menurut data yang dimiliki Fabby, kapasitas listrik di Jawa-Bali sekitar 3 gigawatt (GW) dengan cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak (reserve margin) sekitar 46 persen.

[Gambas:Video CNN]

"Ini jauh di atas reserve margin yang normal yaitu 20 persen. Jadi total reserve margin 46 persen, surplus sekitar 20 persen," tutur Fabby.

Sementara, data PLN Disjaya mencatat kapasitas listrik di kawasan Jakarta saat ini 11,5 GW dengan beban puncak sekitar 4,7 GW. Artinya, ada surplus listrik sekitar 6,8 GW.

Di sisi lain, biaya pemeliharaan PLN terlihat naik turun sejak 2017 hingga 2020. Mengutip laporan keuangan PLN, biaya pemeliharaan pada 2017 sebesar Rp19,51 triliun, lalu naik pada 2018 menjadi Rp20,73 triliun.

Biaya pemeliharaan kembali naik pada 2019 menjadi Rp22,32 triliun. Namun, total biaya pemeliharaan turun pada kuartal III 2020 dari Rp15,12 triliun menjadi Rp13,83 triliun.

Fabby menilai seharusnya biaya pemeliharaan terus meningkat. Pasalnya, perusahaan perlu berinvestasi dalam merawat transmisi dan sistem lainnya demi mengoptimalkan aset.

"Peralatan-peralatan banyak yang harus ganti. Sistem distribusi, gardu harus diperhatikan," ujar Fabby.

Industri Kena Dampak

Sependapat, Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan menilai ada yang kurang dari sistem PLN. Sebab, pemadaman listrik dalam skala besar sudah terjadi berkali-kali.

Kondisi ini, kata Mamit, akan merugikan masyarakat hingga pelaku usaha, khususnya mikro. Pasalnya, ketika listrik padam, maka transaksi atau kegiatan perdagangan akan terganggu.

"Kalau dua jam sampai tiga jam ini kan ganggu aktivitas perekonomian, akhirnya omzet berkurang," tutur Mamit.

Ia bilang industri kecil biasanya tak memiliki persiapan genset yang bisa menghidupkan listrik sementara ketika ada pemadaman dari PLN. Dengan begitu, operasional otomatis berhenti.

"Kalau industri besar punya genset, tapi warung kecil, masyarakat, UMKM biasanya tidak (punya). Saya kira ini akan sangat berpengaruh sekali," jelas Mamit.

Makanya, ia menekankan PLN harus segera mengecek seluruh sistem kelistrikannya. Menurut Mamit, ada kesalahan teknis yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal oleh manajemen.

"Ini jelas menunjukkan ada yang kurang dari sistem di PLN, sehingga masih terjadi pemadaman. Harusnya diantisipasi, sehingga PLN lebih andal lagi. Jangan sampai pelayanan terganggu seperti ini," tutup Mamit.

(agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK