Chatib Basri Nilai Jaminan Sosial Dalang PSBB Tak Efektif

CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 18:16 WIB
Menkeu era SBY Chatib Basri menilai kunci kesuksesan PSBB adalah kemampuan finansial setiap warga untuk menyambung hidup selama tidak keluar rumah atau bekerja. Menkeu era SBY Chatib Basri menilai kunci kesuksesan PSBB adalah kemampuan finansial setiap warga untuk menyambung hidup selama tidak keluar rumah atau bekerja. (Gentur Putro Jati).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri keuangan era SBY Chatib Basri menyebut jaminan sosial (social security) menjadi alasan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia tak efektif.

Pasalnya, kunci kesuksesan dari penguncian wilayah (lockdown) adalah kemampuan finansial setiap warga untuk menyambung hidup selama tidak keluar rumah atau bekerja.

Seperti India, Chatib bilang pemerintah Indonesia belum mampu memberikan jaminan sosial secara penuh. Meski berusaha memberikan bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan sosial (bansos) lain dari berbagai macam program, realisasinya rendah. Tak ayal, menurut Chatib, program pun tak banyak membantu.


Akhirnya, masyarakat kelas bawah harus kembali bekerja untuk mengisi perut. Imbasnya, penerapan PSBB yang dilakukan di berbagai kota besar berdampak kecil pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kelompok menengah ke atas punya tabungan, tapi yang miskin enggak punya. Kalau dipaksa tinggal di rumah hanya bisa kalau dikasih cash (tunai) transfer. Ini yang menjelaskan kenapa India lockdown dan Indonesia PSBB tidak efektif, karena persoalan di dalam social security," ujarnya dalam webinar Mandiri: Dunia Pasca Pandemi, Ada Apa Dengan 2021? pada Rabu (2/12).

Selain itu, dia menyebut juga terjadi masalah behavioral economics atau proses mengambil keputusan yang berkaitan dengan nilai ekonomi.

Kata dia, terjadi bias kognitif yang membuat rata-rata manusia merasa lebih baik dari yang lainnya. Contohnya, kebanyakan orang merasa dirinya lebih superior atau kebal dari virus dibanding orang lainnya.

[Gambas:Video CNN]

Hal ini, lanjutnya, yang memicu orang masih beraktivitas di luar rumah meski mengetahui bahaya dari pandemi.

Selain itu, mempelajari data mobilitas Google, Chatib menyimpulkan bahwa masyarakat hanya merasa takut keluar rumah jika terjadi kasus kematian yang tinggi. Itu pun hanya berlangsung kurang dari 5 hari.

"Ternyata kalau ada tingkat kematian meningkat, orang memang tinggal di rumah, tapi menariknya hanya kurang dari 5 hari," jelasnya.

(wel/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK